Home / Uncategorized / Gunung Ringgit, Gunung Kerdil yang Menipu

Gunung Ringgit, Gunung Kerdil yang Menipu

Gunung Ringgit adalah salah satu gunung di Indonesia. Letaknya sekitar 30 menit dari pusat kota Kabupaten Situbondo, Provisi Jawa Timur Tak banyak yang tahu Gunung Ringgit. Selain bukan termasuk gunung dengan ketinggian di atas 3000 mdpl, gunung itu hanyalah tempat ziarah ke makam Raden Condrokusumo. Di puncaknya ada gua kecil dan makam.

Gunung Agung (nama lain Gunung Ringgit) hanya punya ketinggian 1.250 mdpl. Bisa dibilang gunung kerdil jika dibandingkan Gunung Semeru (3.676 mdpl), Gunung Kerinci (3.805 mdpl), apalagi Gunung Jayawijaya (4.884 mdpl untuk puncak tertingginya). Ukuran gunung dengan puncak paling tinggi hanya 1.000-an mdpl bukanlah tantangan yang menggugah hasrat bagi para pendaki. Wajar jika Gunung Ringgit diabaikan bahkan seringkali tak punya tempat di daftar keinginan prioritas untuk dijelajahi. Buat beberapa orang memang tidak terlalu spesial, tapi… setelah membaca tulisan ini, bisa jadi kamu berubah pikiran.

Pasarean Raden Condrokusumo
Tepat malam minggu, waktu itu malam cukup sendu dan sejuk, saya dan teman-teman berencana menghilang menuju Gunung Ringgit. Rencananya ingin menikmati matahari terbit di puncaknya sambil berpuisi dan syukuri hidup sekaligus sebagai pembuktian kalau kami juga #beranitraveling. Meski akhirnya hanya berdua, kami pun tetap ngeyel. “Apapun yang terjadi kita tetap naik,” kata Zaidi. Saya pun setuju. Semua perbekalan sudah disiapkan bahkan lebih jika untuk berdua. Tak berapa lama, Zaidi memberitahu jika ada dua orang yang akan menyusul.

Kami pun tunggu mereka di tepi jalan raya. Tak lama mereka datang tanpa membawa bekal apapun. Wajarlah, sebab teman baru mengajaknya pada malam itu juga. Saya pikir, kalau makan rasanya cukup. Apalagi Gunung Ringgit bisa dibilang bukit kecil yang hanya menempuh perjalanan beberapa jam saja. Apalagi saya sudah pernah dua kali mendaki meski hanya sampai ke makam Raden Condrokusumo, sepuluh tahun lalu. Saya anggap untuk sampai ke puncak Gunung Ringgit, hanya perlu sedikit lebih keras.

Dari pusat kota kami menyurusi jalan pantura dengan motor. Menembus malam dengan cerita-cerita kecil cukup menyenangkan. Sekitar 30 menit kemudian kami tiba jalan setapak gerbang pendakian. Motor dititipkan di rumah warga.

 

Jalan berbatu ditemani cahaya bulan samar-samar dari balik pepohonan membuat saya sadar kembali, bahwa gelap masih menyimpan keindahan. Keinginan untuk pergi sejenak dari kesibukan dunia membuat bangkit untuk meraih mimpi yang belum sempat terealisasi, juga kenangan akan teman saat kami mendaki bersama-sama sepuluh tahun silam. Beruntunglah gelap, tak ada yang tahu apa yang ada di dalam kepala masing-masing.

Kira-kira satu-dua jam kemudian tibalah kami, empat orang nekat, di makam Raden Tjondrokusumo. Di tempat itu tak hanya berisi makam Raden Tjondrokusumo, tapi ada juga makam lain, beberapa pondok untuk tempat beristirahat para pendaki dan orang-orang yang berkunjung untuk melakukan doa bersama. Konon Raden Tjondrokusumo adalah putra keturunan Sunan Kudus. Otomatis dia berasal dari Kudus, Provinsi Jawa Tengah, kemudian tinggal di Situbondo. Pada zaman penjajahan Belanda, ia pernah bekerja di Dinas Pengairan. Entah bagaimana caranya lalu ia meninggal pada 17 Ramadan (tahun Tidak disebutkan).

Saat pagi, siang, dan sore biasanya ada banyak peziarah sengaja datang ke tempat itu. Mereka melakukan doa bersama, bersilaturahmi, sekaligus jalan-jalan. Pengunjung juga berasal dari luar kota, beberapa kali saya temui orang-orang dari Jember, Jawa Timur mulai dari anak kecil sampai yang sudah sepuh. Kebanyakan hanya berhenti di pos pertama. Sebagian kecil dan pendaki baru naik ke puncak.

Nekat naik
Di pos pertama, di kompleks makam Raden Tjondrokusumo, kami disambut empat pendaki lain yang juga punya tujuan sama, puncak gunung yang juga dikenal sebagai Gunung Putri Tidur. Disebut Gunung Putri Tidur karena jika dilihat dari arah timur, akan terlihat seperti seorang perempuan cantik sedang merebahkan diri. Gunung itu sebenarnya masih memanjang ke arah selatan, seperti pegunungan.

Keempat pendaki muda itu masih bersekolah, menunggu sejak tadi. Berharap juru kunci makam atau yang tinggal di tempat itu datang. Biasanya setiap pendaki melakukan istirahat di sana karena terdapat beberapa rumah peristirahatan dan tentu saja tandon air untuk pengunjung. Di kaki gunung ada acara pernikahan, sepertinya juru kuncinya berada di sana.

“Kalau kakak mau naik juga, kita barengan aja. Pukul 00.00 teng kita berangkat biar bisa lihat matahari terbit,” kata salah seorang dari mereka. Kami pun sepakat. Beristirahat sejenak, mengisi perut, meracuni udara dengan asap-asap rokok yang keluar dari mulut kami, dan mengisi air dalam botol minum kami. Setelah tempat itu, tak ada lagi tempat untuk mengisi air.

Meski teramasuk gunung kerdil, naik gunung tengah malam tanpa izin kepada juru kunci buat saya agak mengerikan. Sebetulnya sebelum tiba di pos pertama, kami berempat menemui seseorang yang juga tinggal di lereng. Dan penduduk di bawah pun juga tahu kalau ada pendaki nekat yang titipkan motor. Kalau kami hilang, minimal mereka akan mencari bantuan.

Kami nekat naik tepat pukul 00.00 WIB diawali dengan doa bersama. Langit benar terasa sendu, seolah gelap kabarkan banyak pesan yang tak dapat ditangkap dengan mudah. Dengan tongkat kayu di tangan masing-masing langkah kaki kian mantap dengan bertambahnya anggota pendakian. Tak lama berselang, seolah kami tak yakin. Jalan setapak kian kabur. Kalau pun ada, jalannya sangat sempit dan bekas pejalan kaki nyaris hilang. Hingga pada satu titik saya minta untuk tidak lanjut dan berbalik meski ada yang masih penasaran untuk menerobos.

 

Di dalam kepalaku sudah terpikir bahwa pendakian itu akan berakhir dengan kehilangan arah atau bisa jadi terjebak berhari-hari di gunung kota sendiri. Sama sekali tidak lucu. Sebenarnya bukan masalah siapa yang akan tersesat atau bukan, tapi menyangkut tanggung jawab. Saya tergolong yang tertua dengan minim pengalaman mendaki, sementara mereka masih berjiwa muda, terlebih keempat anak yang masih berusia sekitar 17-an tahun. Saya yakin mereka berani menerobos hutan tanpa jalan setapak itu dengan bekal keberanian, tapi saya? Ketahuilah kalau saya belum kawin (ini berseloroh, red).

 

Akhirnya setelah benar-benar tidak ditemukan jalan setapak, kami kembali ke makam (tempat kami bertemu dan beristirahat). Beberapa saat terdiam. Saya dan ketiga teman lain mulai mengisap batang rokok lagi. Aroma mentol dan dingin masuk ke dalam paru-paru lalu diembuskan ke udara. Setelah berdebat dan ngeyel ingin melanjutkan (tetap saya pada pendirian bahwa jika harus menerobos yang dilewati tadi, saya akan menghalangi mereka), dua orang kemudian meutuskan untuk mencari jalan yang benar. Haha… Mereka menemukan itu. Ternyata jalan yang dilewati sebelumnya memang salah. Seharusnya berbelok tapi malah memilih lurus. Sebenarnya jalur pendakian ini sangat gampang untuk dicari jalurnya. Sebab jalan setapak dan tanda berupa tulisan “So’onan” (nama lain dari Gunung Ringgit juga) dan panah akan ditemui di beberapa titik. Ya kecuali jika berangkat malam, sebaiknya memang lebih berhati-hati.

Medan terjal ya Allah…
Lega setelah menemukan jalan kebenaran, kami pun lanjut naik sekitar pukul 01.00 WIB. Saya kira pasarean itu pertengahan antara puncak dan titik awal pendakian. Ternyata tidak. Jalan full-menanjak. Bisa dibayangkan untuk saya dan teman-teman dengan persiapan minim, yang hanya bermaksud lari dari kehidupan nyata, tanpa olahraga sebelumnya, dan persediaan makan seadanya?

Saya yang paling tua dan salah seorang teman yang juga cukup tua senasib. Kami berdua lebih sering memilih untuk berhenti (entah beberapa puluh kali). Ada jalur yang harus lewat di tepi tebing dengan jalan setapak hanya berupa bagian dari akar pohon. Terpeleset bisa jatuh. Meski ditemani riuhnya suasana hati dan musik barat sepanjang jalan, ternyata itu tak menghibur. Satu-satunya hal yang menggembirakan adalah kabar “tangga dan tali rafia”. Kata teman-teman, jika sudah menemui tangga besi dengan tali rafia di sampingnya sebagai alat bantu naik, artinya puncak sudah dekat.

Ternyata tangga besi dan tali tampar tak hanya ada satu. Bisa dibayangkan betapa terjalnya medan pendakian jika ada tangga di sana, ditambah tali rafia untuk berpegangan? Dalam perjalanan memang saya melihat gunung ini menyimpan banyak batu cadas di dalamnya. Sepertinya memang termasuk gunung batu. Benar sih, banyak batuan besar. Beberapa kali harus naik jalur batu dengan bantuan tali.

Waktu sudah menungjukkan pukul 04.00 WIB. Sementara kaki mulai meraung-raung untuk memilih berhenti atau turun gunung. “Kayaknya aku nyerah aja, Di,” kata saya tiba-tiba kepada Zaidi. Saya tahu dia juga selelah saya, tapi masih mencoba menghibur diri dengan menyemangati.

Tidak biasanya saya cepat menyerah untuk hal-hal seperti ini. Saya coba mengingat waktu masih berusia belasan tahun. Tak ada kata menyerah. Pernah saya mendaki Gunung Argopuro menuju Puncak Rengganis, meski tertatih-tatih saya tiba juga di puncak dan kembali ke dataran dengan selamat. Pernah juga menerjang jalan berlumpur (yang sampai selutut) di tengah hutan bambu Alas Purwo, Banyuwangi. Justru saya yang menyemangati teman-teman untuk tidak menyerah untuk tiba ke titik yang dituju (gua tempat orang bertapa yang tidak bisa dimasuki juga sih). Hasilnya kelompok saya semua berhasil tiba meski dengan kaki lecet-lecet, sementara teman-teman di kelompok lain lebih memilih duduk-duduk dan mengobrol dengan yang lain.

Pernah juga pada suatu praktikum, saya dan teman harus mencari kepompong di sebuah taman (jaraknya dari ujung satu ke ujung lain sekitar 1 km). Karena teman saya kakinya sedang sakit, ia terus meminta menyerah, tapi saya bilang “Sebentar lagi ketemu.” Benar, mendekati ujung taman, kami pun menemukan kilauan kepompong menggantung di sebuah tanaman berbunga. Tanpa sadar kami tertawa-tawa sambil jungkir balik. Tak peduli pengendara motor dan kendaraan lain menyaksikan kegilaan kami.

Lalu saya sadar. Usia sudah tidak lagi muda. Jika dahulu tanpa persiapan pun masih kuat untuk melawan semua ketakutan-ketakutan dalam hidup, kini tak bisa dibandingkan lagi. Segalanya tak lagi mudah. Oke, saya mengaku tua meski seharusnya jiwa ini makin kuat untuk berpijak di kehidupan yang keras ini. It’s not easy to be an old man, guys!

Selama perjalanan yang cukup melelahkan itu, saya membayangkan duduk-duduk di rumah sambil bermain ponsel pintar, tertawa-tawa saat mengulik Twitter, ditemani teh hangat ditambah campuran kayu manis. Saat mengantuk tinggal pindah ke kamar. Kipas angin yang berputar-putar sejukkan suasana. Jika bosan saya tingga bermain dengan kucing. Ah, serunya. Tapi sayangnya kenyataan membuat saya menyesal harus mengatakan, “Saya butuh lebih banyak asupan makanan.”

Suara azan subuh bergaung di udara kemudian langit mulai terlihat bercak-bercak cahaya. Kami berhenti terlebih dahulu. Memilih jalan setapak yang cukup nyaman untuk direbahi. Selang beberapa lama hanya tiga orang yang memilih lanjut ke atas. Sebenarnya hanya tinggal sebentar lagi menuju puncak, tapi lelah kami tak bisa membayar rasa puas melihat matahari terbit dari timur. Yang tersisa pun tidur, termasuk saya.

Tahu tidak, orang-orang rela menghabiskan banyak uang agar bisa tidur nyenyak dan berkualitas. Kami? Tidak butuh itu semua. Tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk mendapatkan kenikmatan itu. Hingga ketiga orang kembali dari puncak yang mereka idamkan, kami masih pulas. Untuk bersyukur sebenarnya memang perlu perjuangan. Meski tinggal sedikit lagi, tapi saya rasa cukup untuk waktu itu. Saya lebih menyayangi tubuh.

Setelah pulih, kami turun. Rombongan anak-anak sekolah terpisah dengan kami lalu putuskan untuk menyegarkan diri di sebuah sumber air (sungai). Musim kemarau sebabkan sungai batu hanya punya sedikit genangan air. Kami pun berendam di sebuah genangan kecil. Setelah itu pulang. Lalu saya pun akhirnya setuju dengan pernyataan teman-teman, “Kalau berhasil tundukkan Gunung Ringgit, mendaki gunung lain akan lebih mudah.” Meski kerdil, medannya memang jauh lebih tajam dibandingkan gunung-gunung lain. (Uwan Urwan)

Referensi
Wisatasitubondo.com
uwanurwan.com

About uwanurwan

Saya Uwan Urwan, suka menulis, suka menggambar, suka bersenang-senang, dan suka melakukan apa yang saya ingin. Buat saya, menulis adalah salah satu cara melepas beban yang kian hari kian bertambah di kepala. Mau bekerja sama? Email saja ke uwanurwan@gmail.com

Check Also

Tanjung Tua, Surga di Ujung Selatan Pulau Sumatera

Akhir pekan ini kamu mau liburan ke surga dunia yang mana guys? Pantai, gunung, danau, …

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.