Home / outdoors / Juli Berseri di Merapi

Juli Berseri di Merapi

Juli tahun lalu, menjadi juli terindah bagiku. Tanggal satu ku taklukkan Lawu. Sepekan setelahnya, Merapi memanggilku.

Tanggal delapan juli pukul 18.00 WIB, mobil yang ku tumpangi melaju pelan menuju Selo. Sampai di Selo pukul 19.50 WIB. Aku dan rombongan beristirahat sejenak di salah satu warung yang ada di New Selo. Sembari menunggu adekku yang berangkat tak bersama rombongan, kakakku dan dua orang temannya memesan mie rebus sebagai menu makan malam mereka. Sedangkan aku cukup memesan teh panas.

Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara sepeda motor menanjak. Rupanya yang kami tunggu telah tiba.

Setelah anggota rombongan lengkap, kami bersiap untuk memulai pendakian yang diawali dengan berdoa bersama. Pendakian dimulai dari New Selo.

Trek yang kami lalui dari New Selo menuju Pos I berupa tanjakan yang cukup membuat kaget lutut. Rombongan kami beberapa kali istirahat. Maklum saja, dua personel kami mengaku bernafas tua.

Sesampainya di pos I, kami beristirahat sejenak. Lalu melanjutkan pendakian menuju pos II.

Sejenak beristirahat di pos II, lalu melanjutkan pendakian menuju Watu Gajah. Trek yang kami lalui berupa bebatuan juga kerikil. Jadi, perlu kecermatan dalam memilih batu yang akan dipijak. Jika salah pilih, batu yang kita pijak goyah dan akan menjatuhi pendaki lain yang berada di belakang kita.

Selama perjalanan menuju Watu Gajah, aku menahan rasa sakit pada kakiku. Ya, beberapa tahun yang lalu aku kecelakaan yang sampai sekarang pun kadang masih terasa nyeri. Namun, aku berusaha menyemangati diriku sendiri.

Pikirku di Watu Gajah aku bakal melihat batu sebesar gajah. Rupanya bebatuan di Watu Gajah jauh lebih besar dari gajah. Bahkan jalan yang kita lalui itu berupa batu yang sangat besar.

Di Watu Gajahlah aku bersama rombongan mendirikan tenda. Kami beristirahat dan bermalam disana.

Setelah merasa beristirahat yang cukup, kami shalat subuh berjamaah. Lalu melanjutkan pendakian menuju Pasar Bubrah.

Dari tenda menuju Pasar Bubrah, kami melewati trek jalan bebatuan. Selain itu kami harus berjalan turun dari Watu Gajah. Dan naik lagi menuju Pasar Bubrah.

Pasar Bubrah

Dari Pasar Bubrah menuju puncak gunung Merapi, treknya berupa pasir dan batu kerikil. Aku terpaksa berjalan seperti kucing, karena setiap kaki melangkah naik akan kembali turun. Pasir yang dipijak akan longsor dan membawaku kembali kebawah.

Trek menuju puncak gunung Merapi

Sesampainya di puncak, rasa gembira memenuhi kalbu. Namun aku dikejutkan dengan kawah yang berada tepat di bawah Puncak yang ku pijak. Segera saja aku mundur lima langkah.

Puncak gunung Merapi

 

Dari pendakian ini aku mendapatkan beberapa pelajaran. Diantaranya, terkadang kita perlu menahan ego untuk mencapai sebuah puncak kejayaan. Selain itu, perjalanan menuju puncak kesuksesan akan banyak sekali ujian yang mendera. Jika kita berputus asa pada salah satu ujian tersebut, kita tak akan pernah sampai pada puncak kesuksesan yang kita impikan.

Sejak mengenal dunia pendakian aku mulai #BeraniTraveling.

 

About Faaza fauz

Check Also

Berani Travelling ke Negeri Para Raja

Bagi saya, keindahan Indonesia itu nomor SATU. Dan jika harus memilih bagian Indonesia yang paling …

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.