Home / Uncategorized / Kepulauan Togean – Surga Tersembunyi di Leher Sulawesi

Kepulauan Togean – Surga Tersembunyi di Leher Sulawesi

Menyusuri Sulawesi dari selatan hingga utara merupakan salah satu perjalanan yang tak terlupakan. Dari sana aku melihat langsung berbagai keindahan yang tersembunyi di dalamnya, seperti perbukitan karst serta Desa Ramang-Ramang di Maros, tanah Toraja yang mistis, kepulauan Togean, dan lain-lain.

Dari perjalanan itu pula aku menemukan surga tersembunyi di perairan Sulawesi, yaitu Togean. Kepulauan Togean mungkin belum banyak didengar di telinga wisatawan. Aku mengunjunginya tahun 2014 lalu di mana yang namanya travelling ke pelosok negeri barangkali belum nge-trend seperti sekarang. Dan kepulauan Togean pun belum begitu ramai.

Setelah menyusuri Sulawesi dari Makasar, Toraja, hingga Poso, akhirnya sampailah aku dan teman-teman di leher Pulau Sulawesi. Setelah perjalanan panjang melalui jalur darat, akhirnya kami sampai di Ampana. Begitu sampai aku dan teman-teman menginap di rumah warga sekitaran pelabuhan mengingat perahu yang akan membawa kami ke Togean baru ada besok pagi.

Pelabuhan Ampana

Paginya kami langsung naik kapal pertama yang rutin membawa penumpang dari Pelabuhan Ampana ke Wakai, sebuah pusat perdagangan di kepulauan Togean. Perjalanan selama kurang lebih 5 jam menggunakan kapal yang tidak terlalu besar itu lumayan seru, nggak membosankan karena di bagian dek kapal ada musisi yang sedang asyik berdangdut ria. Kami pun bisa istirahat atau tidur karena tersedia tempat-tempat untuk beristirahat, sistemnya siapa cepat dia dapat. Aku dan teman-teman pun sempat bergabung di dek kapal untuk berkaraoke dengan para penyanyi, seru dan hangat. Nuansa keakraban terjalin begitu saja, di mana pun, selama mata dan hati kita terbuka.

Rasanya tak ada lagi yang asing di bumi ini, setelah perjalanan panjang yang kulalui untuk sampai ke surga di pelosok Indonesia ini. Mulai dari hitch-hiking dari Makasar sampai ke Poso, numpang mobil, pickup, bahkan sampai tidur di bak truk semalaman. Banyak orang baik yang kujumpai di jalanan, dan meski segalanya lalu lalang, kesementaraan itu akan singgah selamanya di hatiku untuk mengekalkannya.

kenangan melakukan hitch-hiking menumpang mobil pick up (menuju Toraja)
menumpang truk, seru sekali!
lagi-lagi numpang

Begitu memasuki area perairan kepulauan Togean pemandangan birunya lautan berbaur dengan warna tosca yang mengelilingi pulau-pulau kecil tak berpenghuni sungguh memanjakan mata kami. Aku tak mampu melepaskan pandanganku dari keindahan di luar kapal, kukeluarkan kepala melalui jendela, kurentangkan tanganku yang basah oleh percikan air laut. Kuhirup dalam-dalam bau lautan dan ah betapa indahnya negri ini. Rasanya tidak sabar untuk menyusuri setiap lekuk keindahannya.

Begitu sampai di dermaga, keseruan lain menanti. Kami melakukan challenge untuk menyeberang dari Desa Katupat di pulau Togean ke pulau Pengempa yang berjarak beberapa ratus meter dengan menggunakan sampan. Kedengarannya mudah, apalagi kalau melihat anak-anak kecil bermain dengan sampan-sampan itu sehari-hari. Satu sampan diisi tiga orang, aku berada di tengah, yang berkewajiban mendayung adalah dua temanku yang duduk di depan dan di belakang. Aku hanya bisa berdoa dan menjaga keseimbangan. Meskipun life vest sudah terpasang di tubuhku, tetap saja rasa ngeri membayangkan kalau sampai tervcebur ke laut terus menghantui. Setelah hitungan ketiga kami berlomba dengan teman-teman lainnya. Sampanku berada di tengah, digapit antara sampan di kanan dan sampan di kiri, akhirnya yang terjadi adalah kapal kami oleng lalu tenggelam karena air yang terus masuk ke kapal kami akibat dayungan kapal di kanan kiri.

Padahal letak pulau yang kami tuju masih lumayan, saat sampan kami tenggelam kami masih berada di tengah-tengah. Aku hanya bisa pasrah mengapung-apung menunggu bantuan datang, karena sampan kami juga terbalik. Duh, yang bikin serem itu ada hiu nggak ya di bawah sini? Nggak lama akhirnya kami semua sampai di Pulau Pangempa dengan tawa puas, ya tawa teman-teman yang puas menertawakan tragedi kapal karam itu. Hahaha sial sekali, tapi itu jadi kenangan yang tak akan terlupa!

Pulau Pangempa adalah salah satu pulau-pulau kecil di antara sekian banyak pulau yang berjajar di kepulauan itu. Di pulau itu pula kami akan menginap, yaitu di Fadhila Cottages. Menginap di sebuah cottages yang berada di pulau kecil dengan pantai berpasir putih dan tenang tanpa ombak adalah pengalaman menginap yang paling berkesan dalam hidupku. Setelah membagi kamar, kami pun menikmati sunset sore itu. Aku terdiam di dalam air laut yang tenang, sesekali angin menerpa membisikkan betapa indahnya segala ciptaan-Nya. Dan betapa beruntungnya aku diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan itu, dan semakin belajar untuk mendengar, melihat, dan tetap terjaga kesadaranku.

Fadhila Cottages tempat kami menginap di Pulau Pangempa

Malam harinya setelah makan malam kami beramai-ramai berkumpul di tepi pantai, bermain musik, dan berbagi cerita perjalanan yang penuh tantangan dan cerita indah masing-masing. Lalu keesokan paginya kami mulai menyusuri kepulauan itu. Pertama-rama kami mengunjungi Danau Mariona yang terletak di sebuah pulau tak berpenghuni.Danau Mariona merupakan danau air tawar yang di dalamnya dipenuhi ubur-ubur. Dan di sanalah kami akan melakukan snorkeling.

Di bibir pantai menuju Danau Mariona
harus jalan di air dari perahu ke pulaunya
Dermaga kecil di Danau Mariona

Begitu perahu kami sampai di bibir pulau itu, kami harus turun dan berjalan di dalam air sekitar seratus meter. Setelah sampai di pulau, dan naik sedikit, di balik bukit kecil itu terhampar danau yang sangat caantik. Kami pun berenang-renang di antara ubur-ubur, tapi tenang nggak bersengat kok, jadi aman!

Banyak hal seru bisa kita lakukan di sana, seperti menyusuri perairan dengan perahu atau speedboat, mengunjungi pulau-pulau dengan pantai pasir putihnya, snorkeling serta diving, bahkan kalian juga bisa mengunjungi kawasan perkampungan suku Bajo yang hidup di atas perairan itu. Rumah-rumah kayu berjajar di atas laut dengan dermaga-dermaga kecilnya, anak-anak bermain di laut dengan kebahagian yang sederhana, para nelayan mencari ikan, semua pemandangan itu sungguh berarti bukan hanya sekadar untuk memuaskan mata, tapi membuat kita semakin bersyukur atas kehidupan ini, bagaimana pun bentuknya yang kita miliki masing-masing.

Perkampungan apung di desa Katupat
menikmati suasana
pulau-pulau di Togean Island dengan pantai-pantai tersembunyinya
keindahan tersembunyi

Lautan biru tosca yang jer yangnih dengan kekayaan ikan-ikan serta terumbu karangnya masih utuh menjadi napas tempat itu. Aku bahagia meski hanya memandangnya.

Perjalanan ke kepulauan Togean tidak menghabiskan uang yang besar, modal #BeraniTraveling  dengan biaya terjangkau kita sudah bisa menikmati surga tersembunyi di Sulawesi yang masih perawan. Ketenangan, kehangatan warga sekitar, dan keindahannya sungguh lebih dari cukup bagi perjalanan saya kala itu. Dan lebih dari cukup untuk membangkitkan naluri petualang saya untuk menjelajah pelosok negri lainnya suatu saat nanti.

0

User Rating: Be the first one !

About mutiaraarumkirana

Pejalan & Penikmat Hidup

Check Also

Tanjung Tua, Surga di Ujung Selatan Pulau Sumatera

Akhir pekan ini kamu mau liburan ke surga dunia yang mana guys? Pantai, gunung, danau, …

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.