Home / travel / Nekad Berpetualang 19 Jam ke Negeri “Jaran Goyang”

Nekad Berpetualang 19 Jam ke Negeri “Jaran Goyang”

Di akhir tahun 2017 kemarin, saya dikontrak sebagai surveyor sebuah proyek pemerintahan. Sebagai seorang freelancer budiman, saya pun bersedia buat diutus terjun ke lapangan dan melakukan survei di beberapa lokasi di penjuru Indonesia. Biasanya, saya beserta satu orang partner harus mengunjungi lokasi tersebut dengan waktu survei kurang lebih empat hari, di mana dalam waktu itu saya harus berkeliling ke kantor dinas, ke lokasi pembangunan proyek, dan pastinya meluangkan waktu buat jalan-jalan. Gara-gara kerjaan ini, saya pun berhasil menyelesaikan 16 provinsi untuk dikunjungi. Semuanya gratis. Bukan cuma itu, semuanya disediakan lengkap dengan segala uang akomodasinya bahkan masih ditambah gaji.

Begitu kontrak proyek tersebut selesai, saya berniat untuk menutup tahun 2017 dengan mengunjungi satu provinsi lagi. Dengan demikian, di tahun ini saya bakal melengkapi daftar ceklis yang sudah saya kunjungi menjadi 17 provinsi, persis setengahnya dari total provinsi se-Indonesia yang berjumlah 34. Itu yang ada di benak saya.

Meski saya sudah pernah mengeksplor pesisir barat provinsi Serambi Mekkah, menjelajah Danau Toba, pegal-pegal menempuh enam jam perjalanan darat dari Sibolga ke Mandailing Natal, sendirian dinas ke Makassar, merasakan turbulensi di langit Balikpapan, hingga berpapasan langsung dengan babi hutan yang sliweran di Pulau Seram, masih ada lagi satu provinsi yang sebetulnya mainstream tapi luput dan belum saya kunjungi.

Ya, saya belum pernah ke Bali. Menyedihkan, tapi itulah kenyataan. Untuk memperbaiki kemirisan rekor tersebut, saya langsung memasang target yang tinggi. Pokoknya sebelum berganti tahun, bagaimanapun caranya, saya harus bisa pergi ke Bali!

 

***

Manusia berencana, apa daya, musim liburan-lah yang menentukan.

Jelang akhir tahun, semua tiket pesawat harganya merangkak naik. Masalah klasik, terutama bagi budget-ers seperti saya yang perhitungan soal duit dan cenderung pelit. Sekonyong-konyong, saya pun jadi kepikiran…. “Eh, bukannya bisa ya, naik kereta sampai ke Banyuwangi, terus nyebrang deh ke Bali?”

Dengan mempertimbangkan faktor U–baca:uang, akhirnya saya mengubah target saya dari yang tadinya mau menjelajah seluruh Bali, jadi tinggal menginjakkan kaki saja di Pulau Bali. Literally menginjakkan kaki, makan, balik lagi, dan memilih mengeksplor wilayah Banyuwangi. Sebagai informasi, Banyuwangi belakangan ini memang lagi moncer-moncernya dalam pariwisata, bahkan daerah ini dinobatkan oleh Kementerian Pariwisata sebagai satu dari sepuluh destinasi prioritas “Bali baru” dengan mengusung slogan “The Majestic Banyuwangi”.

Oke, saya langsung menghubungi tiga teman sepergembelan sejurusan se-almamater yang sudah satu frekuensi soal kegilaan dan kenistaan kelakuannya. Mereka adalah Brigitta, Chandra, dan Naufal. Saya bakal mengajak mereka buat short escape jelang akhir tahun untuk menjelajah Banyuwangi dari Jakarta dengan kereta api, kemudian menuntaskan obsesi saya buat menginjakkan kaki ke Pulau Bali.

***

 

Berbekal informasi para backpacker yang ditulis di blog perjalanan mereka, kami harus berganti kereta di Lempuyangan, naik Sri Tanjung dan menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam menuju Banyuwangi.
“Ini mau lewat Jogja aja?”
“Eh, serius lu? Ke Jogja lewat jalur selatan naik kereta ekonomi aja bisa ngabisin waktu sepuluh jam sendiri anying! Kalau ditotal hampir 24 jam, dong?
“Kayaknya harus cari rute lain nih….”
“Nah,  gimana kalau via Surabaya aja?”
“Boleh tuh! Ketimbang makan waktu lewat selatan, enakan lewat utara via Surabaya! Totalnya 12+7 jam doang nyampe Banyuwangi. Lumayan, investasi umur empat jam di jalan!”
Setelah melakukan diskusi, kami memutuskan untuk naik kereta Kertajaya jurusan Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi, kemudian menyambung lagi dengan kereta Probowangi relasi Surabaya Gubeng – Banyuwangibaru jam setengah lima pagi. Adapun tiket Kertajaya sendiri adalah Rp150.000 tanpa diskon, sedangkan Probowangi harganya Rp56.000 per orangnya. Diskusi singkat, patungan, pesan tiket, bungkus!
Banyuwangi, Bali, here we come!
***

 

Selama empat hari, bermodal nekat dan waktu cuti yang direncanakan berjamaah, di pertengahan November kemarin kami mengeksekusi semua tiket kereta dan penginapan yang telah dipesan, meninggalkan Jakarta dengan segala keributan ini-itunya.
Jugijagijugijagijug, kereta berangkat!
tiba di Banyuwangi setelah duduk berjam-jam
Muka Kucel Pede Wefie!

 

Berangkat jam dua siang, duduk di bangku ekonomi yang tingkat keempukannya apa adanya, sampai di Surabaya Turi sudah tengah malam, akhirnya dengan muka kucel layaknya jemuran yang ditinggal ART mudik sebulan, kami sampai di tanah legenda Banyuwangi, tempat yang menginspirasi lagu dangdut koplo yang meledak di tahun 2017. Iya, apalagi kalau bukan Jaran Goyang?
Alkisah Banyuwangi adalah tempat yang terkenal dengan klenik dan sering menjadi tujuan orang yang ingin “ngilmu”, salah satunya adalah pelet Jaran Goyang. Lewat ajian ini, siapa saja bisa mengikat hati seseorang bahkan sampai tergila-gila jika konsisten mengamalkannya. Pelet dari tanah Banyuwangi ini pun akhirnya melegenda, menjadi lagu, dan terkenal se-Indonesia.
Oke, sesampainya di Banyuwangi, kami langsung meletakkan barang di homestay dan pergi ke Ketapang (tentunya dengan iringan lagu Jaran Goyang di mana-mana, mulai dari loket penumpang, di atas kapal, bahkan di angkutan umum). Hanya dengan uang Rp6.500 per orang, kami mendapat tiket untuk menyeberang selama tiga puluh menit saja. Di antara anggota geng, memang cuma saya yang belum pernah pergi ke Bali. Begitu keluar di Gilimanuk, kami langsung mencari restoran betutu, foto-foto sebentar, beli pie susu, kemudian kembali ke Banyuwangi. Tepat di tanggal 17 November 2017, akhirnya kesampaian juga tiba di provinsi ke-17, Pulau Dewata Bali!
Siap-siap Naik ke Kapal, nih!
Tongsis tiada berguna kalau adanya tangan panjang seorang teman
SAMPAI DI BALI NIH!
Kenken Kabare?
Turis bule, tapi Bulenya Bule Depok
Meski tidak jadi mengeksplor Bali karena alasan anggaran, kami tidak menyesal memilih Banyuwangi sebagai tempat melepas penat. Dalam waktu beberapa hari, kami memaksimalkan agenda dengan menjelajah ke setiap pelosok Banyuwangi yang memiliki keindahan bukan main. Pantai Teluk Ijo, sunset yang mewah di Pantai Pulau Merah, tiga jam mendaki Kawah Ijen yang perjalanannya dipenuhi keringat, kaki keram, dan bau belerang yang tajam, menyusuri Taman Nasional Baluran dan Meru Betiri buat mengamati sabana ala Afrika, snorkeling di Bangsring dan bermain dengan ikan hiu di keramba, rasa-rasanya stok foto pun langsung penuh di saat itu juga. Gila, Banyuwangi punya semuanya!
Kawah Ijen!
Ijen rasa Himalaya
Candid Pamer Aurat
Hutan Bentjoeloek
Selamat Datang di Dataran Afrikah!
Menuju Teluk Ijo~
***
Sebagai tanah paling timur di Pulau Jawa, Banyuwangi bagi saya meninggalkan pesan yang sangat mendalam. Meski baru mengenalnya beberapa hari, Banyuwangi menjadi tempat yang membuat mata saya terbuka bahwa Indonesia memiliki banyak sekali lokasi spektakuler yang patut dikunjungi sebelum tua nanti. Mumpung kawanjo masih muda, gunakan setiap kesempatan yang dimiliki untuk #BeraniTraveling ke mana saja sebagai rasa syukur kita pada Tuhan karena negeri kita telah dianugerahi segalanya!

About rizkidwika

\ Sudah Singgah ke 17 dari 34 provinsi. (n.) Makhluk Tuhan Paling Bekasi. Menulis. Jejalan. Ber-arsitektur.

Check Also

Berani Travelling ke Negeri Para Raja

Bagi saya, keindahan Indonesia itu nomor SATU. Dan jika harus memilih bagian Indonesia yang paling …

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.