#BeraniTraveling ke Beberapa Pelosok di Sumatera Utara Bersama Keluarga

0
94
Salah satu keindahan alam Indonesia di Sumatera Utara, Danau Toba.

Pigijo mengatakan seperti ini “share cerita kamu di PIGIJO biar makin banyak orang yang #BeraniTraveling dan sadar akan kekayaan alam di Indonesia!“Ditambah banyak yang mengatakan “you only live once“. Maka, lewat tulisan ini saya akan menceritakan #BeraniTraveling versi saya di beberapa pelosok di tanah leluhur saya, tepatnya di Sumatera Utara. Tidak bersama teman-teman seperjuangan dalam hal traveling, melainkan bersama keluarga. Tujuh hari mengelilingi indah dan ramahnya tanah Sumatera Utara.

Hari pertama, saat kaki saya, pasangan saya dan anak saya yang belum genap berusia dua tahun, mendarat di tanah Sumatera Utara, kami hanya menikmati kuliner di Ibu Kota provinsi satu ini, Medan. Kami tidak menggunakan kendaraan pribadi, kami malah memilih untuk menggunakan kendaraan umum. Saran saya, jangan pernah meninggalkan kota Medan tanpa menikmati keseruan menaiki bentor berkeliling pasar yang tentu saja menjajakan banyak kuliner khas Medan. Durian, kue oleh-oleh kekinian, bika ambon bagi kami pribadi sudah biasa. Bagaimana dengan lampet, arsik, hingga lemang? Sudah pernah mencoba? Rasanya benar-benar menggoda. Ke Medan, selain #BeraniTraveling sepertinya juga harus berani mencoba kuliner yang berbeda, nih.

Esok harinya, kami berangkat pagi-pagi menuju destinasi berikutnya. Tidak lain tidak bukan, ke Parapat. Sebuah kawasan di mana Danau Toba terbentang dengan alami dan indahnya. Perjalanan dari Medan ke Parapat cukup panjang, dapat memakan waktu hingga 3 jam. Bosan? Sama sekali tidak. Lewat kacamata saya, di dalam kendaraan yang sederhana pula, saya menikmati pemandangan kawasan Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, dan Pematangsiantar. Sebelum jam 12, kami telah tiba di kawasan Parapat. Pemandangan hijau mengelilingi Danau Toba yang luas ini. Udara yang sejuk tentu saja ikut menyambut kami di kawasan pariwisata satu ini.

Danau Toba

Setelah check-in di salah satu penginapan, kami pun sepakat untuk menyebrang ke Pulau Samosir. Hanya memakan waktu sebentar saja kami menggunakan kapal untuk menuju Pulau Samosir dari Pelabuhan Penyeberangan Ajibata. Menyebrang di atas perairan laut mungkin sudah biasa, saya dan keluarga kecil saya pun sudah #BeraniTraveling menikmati salah satu danau vulkanik terbesar di dunia ini. Setibanya kami di Samosir, kami pun segera mencari restoran setempat untuk bersantap siang. Kemudian, saya melanjutkan untuk jalan-jalan di sekitar Tomok. Menikmati keindahan budaya leluhur kami di sini.

Pelabuhan Penyeberangan Ajibata.

Keesokan harinya, setelah bersantap siang di kawasan Parapat, kami menuju ke kawasan Sidikalang, Desa Tanjung Beringin. Untuk menuju desa tersebut dapat memakan waktu hingga 4 hingga 5 jam, dengan melewati berbagai kawasan seperti Porsea, Balige, Siborong-Borong (tempat di mana bandara Silangit berada), Tele, dan lain-lain. Setibanya di Desa Tanjung Beringin yang kaya akan hasil perkebunan itu, hawa dingin langsung menyambut kami. Karena memang desa satu ini dekat dengan Berastagi, tempat di mana Gunung Sinabung berada. Kami benar-benar menikmati segala sesuatu yang ada di sini, hal-hal yang tidak kami temukan di kota sebesar Jakarta. Memetik jeruk, terong, dan lain-lain langsung dari ladangnya, memetik dan menggongseng kopi khas Sidikalang, hingga berkumpul bersama para saudara dan beribadah bersama.

Setelah tiga hari dua malam berada di pelosok Sidikalang, kami menuju Medan kembali. Kali ini melewati Berastagi, Kabanjahe, Merek, dan lain-lain. Kali ini memakan waktu empat hingga lima jam juga. Satu malam lagi kami menikmati Medan, membeli oleh-oleh khas untuk keluarga dan teman-teman yang ada di Jakarta. Keesokan sorenya kami harus menuju Deli Serdang, di mana bandara Kualanamu berada. Menandakan traveling keluarga kecil ini di tanah Sumatera Utara selesai.

Sidikalang, salah satu pelosok di Sumatera Utara yang kaya akan hasil perkebunan.

#BeraniTraveling adalah berani menentukan dengan siapa dan ke mana kamu akan menjelajahi alam Indonesia yang tak ada habisnya ini. Apakah saya akan bersama keluarga lagi dalam ber-traveling? Why not? Bukankah traveling bersama orang-orang dicintai akan menambah rasa cinta terhadap destinasi yang dikunjungi? Bagi saya pribadi sih, tentu saja. Maka, tunjukan #BeraniTraveling-mu, dan ingat “you only live once“.

WordPress spam blocked by CleanTalk.