#BeraniTraveling : Menaklukan Kelok 44 dengan Pemandangan Damai Danau Maninjau

    1
    495

    Siapa yang berani menyangkal kalau Indonesia memiliki alam yang indah? Berbagai lokasi di Indonesia menawarkan keindahan alam sebagai destinasi wisatanya. Tak terkecuali provinsi Sumatera Barat.

    Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki alam yang luar biasa. Kepulauan Mentawai telah terkenal sebagai lokasi surfing yang memanjakan pecinta olahraga berselancar. Gunung-gunung di daerah yang terkenal dengan rumah gadangnya ini pun juga menjadi incaran para pendaki gunung untuk di taklukan. Wisata alam lainnya adalah adanya dua danau besar yaitu Danau Singkarak yang selalu dilewati saat event Tour de Singkarak dan Danau Maninjau.

    Danau Maninjau dari Puncak Lawang, Sumatera Barat

    Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik seluas 100 km persegi yang berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Danau terluas kesebelas di Indonesia ini berada di ketinggian 460 meter di atas permukaan laut. Menurut sejarah, danau ini terbentuk karena adanya erupsi vulkanik dari Gunung Sitinjau. Ada pula legenda ‘Bujang Sembilan’ yang konon terkait dengan meletusnya Gunung Sitinjau hingga terbentuk kaldera luas yang kini terkenal dengan Danau Maninjau.

    Untuk dapat sampai ke Danau Maninjau, kita dapat datang melalui Lubuk Basung atau Kota Padang. Namun, pengalaman yang akan lebih menyenangkan adalah mendatangi Danau Maninjau dari Kota Padang via Bukittinggi menuju Lubuk Basung. Jika kita mengambil jalan ini untuk dijelajahi, maka tak hanya keindahan Danau Maninjau saja yang dapat dinikmati, aktivitas wisata lainnya juga dapat dilakukan.

    Puncak Lawang

    Puncak Lawang adalah sebuah dataran tinggi di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Lokasi ini semakin terkenal sebagai area untuk dapat melihat Danau Maninjau. Akan tampak warna biru dari Danau Maninjau serta warna hijau di sekelilingnya yang berasal dari perbukitan yang mengelilingi danau tersebut. Tak lupa, luasnya langit biru dan awan-awan putih yang menggantung menambah semarak pemandangan menjadi lebih indah.

    Puncak Lawang Sumatera Barat

    Jaman kolonial dulu, Puncak Lawang digunakan sebagai tempat peristirahatan bangsawan Belanda. Kini, selain sebagai area wisata menikmati Danau Maninjau, Puncak Lawang juga sering digunakan sebagai area untuk berlatih hingga menjadi lokasi diadakannya kejuaraan paralayang tingkat internasional. Tak jarang, ketika kita sedang syahdu mengagumi kuasa Tuhan berupa warna bening dari Danau Maninjau, akan ada orang yang sedang mencoba atau berlatih paralayang melintasi perbukitan di dekat area danau tersebut. Panganan khas Minang seperti Sala Laua, Bergedel Jagung, dan Sate Padang juga dapat disantap sembari bersantai. Tentunya, Es Tebu khas Sumatera Barat juga hadir untuk melengkapi saat santai di Puncak Lawang.

    Area Puncak Lawang yang sejuk dengan panorama hutan pinus kini juga dilengkapi oleh aneka permainan menantang seperti flying fox, jembatan ban, jembatan tali, dan panjat tali. Bagi yang suka hiking dan camping pun dapat melakukannya di Puncak Lawang karena area untuk kegiatan tersebut juga tersedia. Fasilitas lain yang terdapat di Puncak Lawang adalah lahan parkir yang luas, kios-kios souvenir, rumah makan, penginapan, musholla, dan toilet.

    Rumah khas Sumatera Barat yang dilewati saat turun dari Puncak Lawang

    Ambun Pagi Danau Maninjau

    Jika Puncak Lawang adalah puncak dari perbukitan tertinggi di dekat Danau Maninjau dan menawarkan view secara keseluruhan, maka Ambun (Embun) Pagi adalah lokasi untuk melihat kebesaran Danau Maninjau lebih dekat. Untuk menuju obyek wisata ini, kita dapat bergerak turun dari arah Puncak Lawang menuju arah Lubuk Basung. Obyek wisata ini memiliki udara yang cukup sejuk bahkan dingin. Saat pagi hari, area ini cenderung berembun dan menampilkan kabut-kabut tipis yang bergerak di atas Danau Maninjau. Oleh karena itu, daerah ini dinamakan Ambun Pagi.

    Kerupuk dengan kuah Sate Padang dan bihun yang menjadi teman menikmati pesona Danau Maninjau

     

     

    Dilengkapi oleh area parkir yang luas, kios-kios souvenir, dan juga pedangan jajanan khas, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan Danau Maninjau sembari bersantai. Banyak lahan yang bisa dijadikan tempat piknik bersama keluarga. Bersantai dan bercengkrama dengan pemandangan yang menyejukkan hati.

    Jalur Menantang Kelok 44

    Untuk menuju kota Padang kembali setelah menikmati Danau Maninjau, lebih disarankan melewati daerah Lubuk Basung daripada kembali via Bukittinggi. Dari Ambun Pagi menuju Lubuk Basung, kita akan menghadapi perjalanan yang unik sekaligus menantang karena melewati jalur jalan raya dengan kelokan yang cukup tajam dan banyak. Jalur ini terkenal dengan nama Kelok 44 atau Kelok Ampek Puluah Ampek.

    Kalau iseng, bisa menghitung jumlah kelokan di Kelok 44

    Anggunnya Danau Maninjau akan terlihat lebih jelas dan lebih dekat. Jika ingin beristirahat kembali, di sepanjang area juga banyak ditemui tempat makan sekaligus rest area. Hijaunya pepohonan dan birunya Danau Maninjau menjadi teman sepanjang perjalanan melewati kelok. Jika masih merasa tak yakin dengan jumlah kelok, selama perjalanan kita juga dapat menghitung sambil menyocokkan dengan papan di sepanjang jalan yang menunjukkan jumlah kelokan. Karena kita berasal dari arah Bukittinggi, kita akan menghitung secara mundur mulai dari angka 44.

    Di tepian Kelok 44, terkadang kita bisa secara langsung melihat kera-kera liar. Tak jarang ada wisatawan melemparkan makanan seperti kacang dan roti dari kendaraan. Ya, walaupun demi kera-kera ini senang karena mendapat makan, ada baiknya kita jangan melempar makanan yang masih dalam kemasan karena akan menjadi sampah di jalan tersebut.

     

    Lebar jalan di sepanjang jalan Kelok 44 terbilang sempit, pengemudi harus berhati-hati saat melintasinya. Jangan kaget kalau ada kendaraan dari arah bawah (Lubuk Basung) yang mengklakson berkali-kali untuk memberi tanda. Kita pun dengan kendaraan dari arah atas juga harus bersedia berhenti untuk memberi jalan agar kendaraan dari bawah bisa bergerak.


    Danau Maninjau berada di sisi kiri jika perjalanan ke arah Lubuk Basung

    Tentu diperlukan kehati-hatian dan konsentrasi tinggi dalam melintasi jalur yang menantang seperti kelokan patah-patah seperti Kelok 44 ini. Kombinasi warna hijau di sepanjang jalan dan birunya Danau Maninjau yang tampak bisa menambah kedamaian dan ketenangan hati dalam melintasi jalur ini. Belum lagi jika ada matahari yang mulai terbenam dan memberikan semburat jingga keemasan. Tak terasa tibalah kita sampai kelokan terakhir dan ternyata kita berhasil menaklukan perjalanan memacu adrenalin di jalur Kelok 44 dengan pemandangan mendamaikan hati dari Danau Maninjau.

    1 COMMENT

    WordPress spam blocked by CleanTalk.