Berani Taklukkan Ketinggian 1600 mdpl Gunung Lakaan

0
135
Foto diambil dari ketinggian 1600 mdpl

  Dibalik semangat nasionalisme yang terpatri pada jiwaku, aku mulai petualangan untuk memperingati  kemerdekaan Republik Indonesia dengan sesuatu yang beda. Aku memutuskan untuk gabung bersama tim ekspedisi jalur pendakian Desa Lakan Mau – Puncak Gunung Lakaan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

     Sebelumnya, aku hanya pernah sekali naik gunung. Itupun Gunung Galunggung dengan jalur anak tangga untuk sampai ke atas puncak. Tapi, tekad #BeraniTraveling ku sudah bulat. Aku harus yakin sampai di puncak Gunung Lakaan dengan ketinggian 1600 mdpl.

      Dalam tradisi Belu, Gunung Lakaan merupakan situs paling keramat yang menjunjung tinggi keaslian unsur religi penduduknya. Sejak lama Gunung Lakaan dijadikan tempat ziarah bagi umat Katolik. Ada tempat penyembahan wujud tertinggi, tempat hunian para arwah, dan tempat menimba kekuatan magis.

      Kisah-kisah mistis Gunung Lakaan membuat penasaran semua orang. Setiap tahun ada saja yang ingin menjelajah ke tempat ini. Seperti aku yang ingin menikmati keindahan Belu dari atas puncaknya.

     Jumlah tim ekspedisi pendakian terdiri dari 30 orang, termasuk 3 juru kunci sekaligus porter yang sudah terbiasa mendaki Gunung Lakaan. Selebihnya tim kami terdiri dari perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Mapala STISIP Fajar Timur, dan KPA Binkar Atambua. Mereka terbilang jarang mendaki ke Gunung Lakaan karena medan tempuh gunung ini bisa membuat para pendaki tersesat didalamnya.

    Kami berangkat dari rumah penduduk sekitar pukul 1.00 malam. Bermodalkan cahaya senter, kami menerobos gelap malam dan serangan cuaca dingin yang hebat. Jalur trekking dipenuhi semak belukar. Kami harus tetap waspada agar tidak bertemu satwa liar.

    Di tengah pendakian malam, salah satu jalur yang kami lalui terjadi longsor. Semua panik, namun harus hati-hati. Tidak ada pilihan lain untuk terus mendaki. Jika berhenti sampai disini, maka bersiaplah jurang yang akan menanti.

  Pelan tapi pasti, langkah kami mulai jalan menyamping. Sambil berpegangan satu sama lain menggunakan tali. Sekali saja terlepas dari tali, maka malam nan kelam akan menjadi malam terakhir dalam hidup kami. Semua itu harus kami lakukan demi melewati kedalaman jurang ratusan meter pada sisi tebing yang curam. Satu per satu melompati tanah longsor dengan raut wajah cemas diliputi ketakutan.

       Ada perjuangan hidup dan mati malam itu. Tapi, ujian pertama berhasil ditembus. Saling menguatkan satu sama lain menjadi kunci saat melakukan pendakian. Kepercayaan dengan sesama teman juga dibutuhkan agar tidak ada keegoisan untuk sampai puncak duluan.

    Keadaan semakin gelap. Sinar rembulan mulai menghilang dan tak lagi menerangi jejak langkah kami. Jerih payah pendakian mulai menyelinap diantara batu-batu gunung dan pohon-pohon kayu putih. Tim yang paling depan terus mencari jalan yang benar.

    Tiga jam berlalu. Kelelahan mulai mengganggu. Beberapa kali kami coba istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga sambil melepas dahaga dengan air mineral yang segar. Sebagian pendaki justru memilih untuk tidak beristirahat karena akan melunturkan semangat. Mereka terbiasa beristirahat ketika sudah sampai puncak.

     Tiba-tiba teman pria ku yang dari Jakarta berteriak “Tolong …!”. Semua mata tertuju padanya. Kakinya mendadak kram. Ia beranggapan tidak mampu melanjutkan perjalanan. Aku yang berjalan di belakangnya selama pendakian memang melihat beberapa kali kakinya tergelincir. Maklum saja, jalur yang kami lalui tergolong licin.

     Proses pendakian harus tetap berlanjut. Kami punya target untuk sampai ke puncak saat matahari terbit. Temanku harus mengambil keputusan, apakah terus mendaki walau kakinya sudah tidak kuat berdiri lagi atau Ia kembali dengan melalui jalur yang longsor tadi. Pilihan sulit. Hingga salah satu juru kunci membantu temanku dengan memijat pergelangan kakinya agar tidak terlalu kejang. Aku pun menyemangati bahwa kita sudah jauh datang ke pelosok Indonesia dan kita harus bisa mencapai puncak walau banyak ujian yang harus dilalui.

       Setelah semua pulih, kami berjalan kembali. Medan semakin menanjak. Kondisi kemiringan topografi mencapai 70 derajat. Para pendaki dikelilingi oleh jurang yang menakutkan. Tak ada lagi rimbunan pohon kayu putih seperti di kaki gunung tadi. Ini sudah hampir mencapai puncak.

         Kesulitan semakin terasa untuk menuju puncak. Masing-masing mulai menyelamatkan diri sendiri. Ada yang bertahan pada ranting lapuk, bertumpu pada batu lepas, dan merayap pada kemiringan tanah yang sudah tidak berada di bawah. Tiga juru kunci harus menolong kami satu per satu sampai ke atas.

          Sekarang, giliran aku yang menyerah. Tubuhku sudah sulit untuk mengangkat badan sampai ke atas. Tenagaku sudah habis disisa perjalanan terakhir. Melihat ke bawah saja aku sudah tidak sanggup. Jika aku salah bertumpu, maka aku akan kehilangan nyawaku.

         Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WITA. Tanda matahari mulai muncul ke permukaan. Momen matahari terbit pun aku lewatkan begitu saja. Aku masih tak bisa bergerak dalam tumpuan. Hanya mampu menunggu bantuan. Hingga aku menjadi pendaki terakhir yang ditolong oleh salah satu juru kunci karena posisiku berada pada kemiringan paling bawah.

        Salah satu juru kunci yang menolongku

            Sekitar pukul 06.30 WITA, aku baru sampai puncak tertinggi kebanggaan masyarakat Belu itu. Aku disambut dengan hembusan angin yang semakin kencang. Dengan wajah yang pucat, aku langsung mengabadikan momen dalam bentuk foto sebagai bukti aku telah mewujudkan tekad #BeraniTravelling.

  sarapan anak gunung

   Selesai sarapan di atas gunung, aku pejamkan mata sejenak. Mataku terpejam di atas rumput beralaskan bantal dari batu. Terngiang dalam ingatanku, perjuangan yang sudah ku tempuh dalam waktu beberapa jam itu. Mungkin mendaki Gunung Lakaan belum ada istimewanya jika dibanding jasa para pahlawan yang pernah mengorbankan segenap jiwa raga untuk mempertahankan bangsa Indonesia.

     Tak lama, aku terbangun dari lamunanku. Pendaki lain mengingatkanku untuk ikut upacara bendera di atas Gunung Lakaan itu. Sungguh kesempatan langka yang tidak pernah terlupakan.

      17 Agustus 2017 lalu menjadi saksi bisu pengalaman hidupku. Begitu khidmat saat bendera dikibarkan dan diikat pada salah satu ranting pohon. Begitu bangga saat seluruh peserta upacara menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Semua dinikmati para pendaki yang begitu berani menaklukkan ketinggian Gunung Lakaan yang penuh kesakralan.

     Upacara pun usai. Sekitar pukul 10.00 WITA, kami memutuskan untuk turun gunung. Hal ini dilakukan secepat mungkin agar tidak sampai kemalaman di atas gunung. Jalur yang kami lalui pun berbeda dari yang semalam kami lewati.

      Meski kami sudah kehilangan banyak tenaga, kami tidak putus asa. Tak ada bukit terjal yang begitu mencekam kami temui selama perjalanan pulang. Kami tiba di rumah penduduk sekitar pukul 16.00 WITA.

   Perjalanan mendaki gunung di hari proklamasi kemerdekaan berakhir. Sepenggal kisah yang mengajarkanku untuk terus menjaga kelestarian alam. Banyak pelajaran tentang kehidupan untuk saling menghormati dan menghargai dengan sesama teman pendaki. Butuh keberanian yang kuat untuk menaklukkan ketinggian 1600 mdpl Gunung Lakaan.

WordPress spam blocked by CleanTalk.