Curug Kembar : Perjalanan sulit untuk pemandangan yang indah

0
129

#BeraniTraveling itu apa sih?

Seandainya pertanyaan itu datang ke kamu, apa jawaban kamu?

‘Ya berani jalan – jalan-lah..
Ya traveling, wisata, jalan-jalan..’

Sepertinya sebagian besar akan menjawab seperti itu ‘kan?

Nah, seandainya pertanyaan itu datang ke aku maka aku akan menjawab dengan sedikit lebih panjang.

‘#BeraniTravelling adalah ketika aku memutuskan untuk mengunjungi salah satu tempat wisata meskipun minim informasi. Lihat gambarnya di internet, tertarik, terus pergi. Mau gimana ke sananya ya liat nanti. Mau susah atau nggak pokoknya jalan terus. ‘Kan sudah kepalang jalan, masa balik lagi?’

Yap! Kurang lebih seperti itulah jawaban aku dan aku benar- benar mengalaminya ketika aku, saudaraku dan teman – temanku memutuskan untuk mengunjungi Curug Kembar yang ada di Desa Cibeureum, Bogor.

Curug Kembar sendiri sebenarnya terdiri atas 3 curug, yaitu Curug Hordeng (lokasinya masih ke atas lagi), Curug Kembar (posisinya di tengah dan memiliki 2 curug sekaligus) dan terakhir Curug Ciburial (di bawah setelah Curug Kembar). Curug sendiri merupakan bahasa daerah yang berarti air terjun dalam Bahasa Indonesia.

Kami pergi di tanggal 10 Juli 2016 pukul 10 pagi. Ide mengunjungi Curug Kembar datang dari adik laki – laki aku setelah melakukan pencarian di internet. Waktu itu (sepertinya) wisata Curug Kembar baru dibuka jadi belum terlalu banyak yang tau. Tapi dari ulasan di internet rata – rata bilang tempatnya bagus. Dengan semangat ’45 kami yang terdiri dari 6 orang pun memutuskan untuk mengunjungi Curug Kembar meski hanya berdasarkan informasi lokasi curug dari mbah Google.

Karena kami tidak menemukan satu pun ulasan mengenai ‘susahnya’ ke Curug Kembar maka kami sama sekali tidak mengira kalau perjalanannya akan super duper sulit. Yup! Super duper sulit. Bayangkan saja, kami berangkat pukul 10 pagi dan baru tiba di curug-nya 4 jam kemudian, alias jam 2 siang. Padahal jarak dari rumah kami tidak begitu jauh. Ini gara – gara jalan menuju ke curug itu yang menanjak dalam arti benar – benar menanjak!

Kami bertiga naik 3 motor bebek waktu itu. 5 wanita dan 1 laki – laki (adikku). Tapi yang bisa membawa kami sampai tiba ke curug cuman adik laki – laki-ku. Jalanan yang menanjak, berkelok dan di beberapa tempat masih berkerikil (belum di rapikan) membuat 2 pengemudi wanitanya menyerah. Malah kakak perempuan saya nyaris ‘terjun bebas’ gara – gara motor mati mesin pas ditanjakan. Sigap aku dan temanku yang memang paling dekat dengan kakakku langsung menahan laju motor. Alhasil, badan belakang motor rusak ditambah dengan kakakku yang shock! Mau nggak mau kami istirahat sejenak sekaligus mempertimbangkan lanjut apa nggak, karena firasat mengatakan ini belum apa – apa. Aku dan kakakku kekeuh bilang lanjut, sudah kepalang. Sementara satu orang teman sudah minta untuk pulang.

Kalah suara, kami putuskan lanjut. Benar saja, ‘merosotnya’ kakakku tadi adalah ucapan selamat datang dari curug ini. Bukannya membaik, jalanannya malah semakin menanjak. Beberapa mobil matik malah putar balik gara – gara liat satu mobil yang nyaris berjalan mundur ditanjakan seperti kakakku tadi. Sementara motor – motor matik harus didorong sama yang punya.

Oke, mungkin aku berlebihan, karena penduduk lokal asyik saja bawa kendaraan mereka turun naik. Mungkin memang kami yang belum terbiasa dengan trek begini jadinya kaget.

Well, hampir 2 jam setelah perjuangan bolak balik, eh, tunggu bolak – balik?. Yup, adik aku bolak balik bawa kami berlima. Caranya, dia bawa motor 1 sama 1 penumpang, trus tinggalin motornya di atas. Dia turun jalan kaki ke bawah untuk anter 1 orang lagi dengan 1 motor yang lain, begitu terus sampai kami tiba di pintu masuk Curug Kembar. (Bisa kalian bayangkan gimana cape-nya kan?) Kami masih disambut dengan tanjakan yang baru. Yup! Tanjakan menuju ke curugnya sendiri dan yang ini kami harus jalan kaki. Menapaki tanah merah. Bahkan dikejauhan kami liat rombongan orang – orang yang berjalan kayak mendaki gunung.

Kami tanya ke pemilik warung, “ke curug harus nanjak begitu?“ dan dengan santainya dijawab “Iya memang itu jalannya” .

What?!

Lagi – lagi temanku meminta untuk pulang. Matahari tepat di atas kepala. Panas, cape ditambah lagi dengan pemandangan tanjakan yang agung, gimana dia nggak menjerit!

Tapi aku tetap kukuh. Harus sampai curug. Mau bagus atau nggak. Please deh! Kita udah bayar tiket masuk. Susah – susah. Panas-panasan. Masa pulang? Ogah!

Akhirnya kami pun memutuskan untuk lanjut dan…

Pernah dengar ada yang bilang kalau sesuatu yang indah biasanya sulit didapatkan?

Nah, itulah yang aku rasakan!

Pemandangan menakjubkan terhidang di depan mata. Seakan – akan berada di luar negri!

Oke lebay! Di luar Bogor deh kalau gitu. Maksudku pemandangan perbukitannya itu benar – benar keren. Sepanjang mata memandang semua hanya bukit – bukit hijau yang bertemu dengan sekumpulan awan berwarna putih bersih. Udaranya pun beranjak menjadi sejuk.

Butuh waktu kira – kira setengah jam lebih hingga kami tiba di Curug Kembar. Eh, belum deng, soalnya kami masih harus menuruni bukit lagi melewati perkebunan warga. Lalu turun hingga ke sungai.

Nah, dari sungai itu, kami harus nanjak lewat bebatuan besar (hati-hati tergelincir ya) baru deh tiba di curugnya. (Btw, memang begitulah ke curug. Harus bersusah – susah dahulu!)

(Lagi – lagi)

Curugnya tidak mengecewakan kawan!!

Berada agak ke dalam diapit dengan 2 dinding batuan alami di kanan kirinya. Seakan memberikan sensasi berada di curug private.

Untuk curugnya sendiri tidak begitu tinggi dan lebar, kolamnya pun kecil. Tapi aku puas. Rasanya perjalanan kami tidak sia – sia. Airnya jernih, segar meski agak deras. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya hujan.

Tak apa! Kami puas – puasin main air di curug itu. Seperti biasa spot favorit aku adalah pas di bawah guyuran air terjunnya. Tapi harus hati – hati, karena semakin mendekati spot jatuhnya air, kedalaman kolam semakin dalam. Arusnya juga semakin deras. Kita juga harus hati – hati melangkah karena ada batuan yang agak tajam di dasar kolam. Apapun itu aku tetap puas!

Niat awal kami tadinya mau mengunjungi ketiga curugnya. Tapi apa boleh buat, waktunya tidak cukup ditambah langit yang mulai gelap pertanda akan hujan. Padahal lagi seru-serunya.

Begitulah, intinya disini aku mau kasih tau kalian, kalau #beranitravelling itu harus sampai akhir meskipun perjalanan awalnya sulit kecuali ada pertimbangan lain yang mau gak mau harus batal.

Ingat, sesuatu yang indah biasanya sulit didapatkan!

 

Catatan : Semua foto dalam blog ini adalah milik pribadi.

WordPress spam blocked by CleanTalk.