Malioboro: Riwayatmu Dulu dan Kini

1
113

“Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu. Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa mana”, begitulah penggalan lirik lagu Yogyakarta yang dialunkan dengan indah oleh KLA Project.

Yogyakarta memang terbuat dari Rindu. Sekali berkunjung rasanya ingin kembali lagi suatu saat nanti. Bagaimana dengan aku yang lahir dan besar di kota ini? Bagiku, Yogyakarta yang seringkali disebut ‘Jogja’ tidak pernah menawarkan kebosanan dan selalu menyuguhkan menu pariwisata baru. Wisata alamnya? Banyak. Coba tengok jajaran pantai indah di balik ‘Jogja Lantai Dua’ sana (re: Gunung Kidul). Pantai pasir putih itu tak pernah lelah menggugah kita untuk kembali dan kembali. Wisata sejarah dan budaya? Tidak perlu diragukan lagi. Kraton Yogyakarta menjadi destinasi wisata budaya yang wajib kamu kunjungi. Kraton yang masih menjaga eksistensi budaya hingga saat ini. Mau candi? Mudah saja. Kamu bisa menuju Timur Laut kota Yogyakarta. Disana berdiri candi megah yang seringkali disebut sebagai ‘bukti kalau orang zaman dulu udah sering pakai sistem kebut semalam’ (bercanda dong pasti), apalagi kalau bukan Candi Prambanan.

Oh ya, ada satu lagi tempat yang wajib dikunjungi di kota yang terkenal dengan gudegnya ini. Malioboro! Tempat bersejarah di Yogyakarta yang serba ada. Makanan khas dan oleh-oleh khas Jogja semua ada disini.

 

Btw, kalian harus tahu kalau Malioboro itu tidak sekadar tempat bernilai ekonomi, tetapi juga bernilai sejarah. Malioboro sudah dikenal sejak awal-awal berdirinya Yogyakarta. Malioboro adalah ‘Jalan Berhiasan Untaian Bunga’. Istilah ini berasal dari bahasa Sanseketa yakni “Malyabhara”. Malyabhara berarti karangan bunga atau untaian bunga. Jadi jalan Malioboro ini tentu sangat istimewa. Dahulu jalan ini adalah jalan utama, jalan raja, atau jalan tamu-tamu Kraton Yogyakarta. Kalau sekarang ini gimana? Ya tetap istimewa dong. Jalan Malioboro seringkali dijadikan tempat pawai-pawai besar Yogyakarta.

Malioboro adalah saksi bisu dinamika perkembangan Yogyakarta. Untuk tahu ini, sebelumnya kalian perlu tahu perbedaan antara Jalan Malioboro dengan Kawasan Malioboro. Jalan Malioboro adalah jalan diantara Margo Utama dengan Marga Mulya. Sedangkan Kawasan Malioboro mencakup seluruhnya. Dari selatan rel stasiun sampai titik nol Yogyakarta. Malioboro yang dimaksud disini adalah Malioboro sebagai kawasan.

Kembali ke topik semula. Saksi bisu perkembangan kota Yogyakarta, mengapa? Coba tengok bangunan yang saat ini menjadi benteng Vrederburg. Dahulu benteng ini dipakai oleh Belanda untuk mengawasi Kraton Yogyakarta. Saat ini dijadikan museum yang merekam pergerakan rakyat Indonesia. Berjalan lagi sedikit ke Utara. Ada apa? Pasar Beringharjo, pasar yang sebenarnya sudah ada sejak masa Sri Sultah Hamengku Buwono I. Et… tapi jangan dibayangkan bangunan pasar ini sejak awal sudah sebagus sekarang. Dahulu pedang masih membuka lapaknya masing-masing dibawah pohon beringin atau pohon lain. Dari pasar ini kita bisa melihat bagaimana sektor ekonomi Indonesia selalu berkembang setiap masanya.

Kalian tahu ada apa lagi? Ketandan. Yap, sebuah perkampungan Tionghoa yang masih eksis sampai sekarang. Rame banget parah kalau pas ada hari besar Tionghoa. Kalau pas gak ada event besar bagaimana? Santai aja, kalian masih bisa menjumpai bangunan-bangunan khas Tionghoa. Btw kalian tahu gak sih asal mula penamaan Ketandan? Ketandan berasal dari kata ‘Tanda’, hal ini disebkan oleh profesi orang-orang Tionghoa di Ketandan sebagai penanda atau penagih pajak.

Sejarah Malioboro nampaknya terlalu banyak untuk.dikaji. Dinamika Malioboro yang silih berganti rasanya membujuk kita untuk tahu lebih dalam lagi. Paparan diatas sedikit menyinggung soal Malioboro Tempo Doeloe. Bagaimana sekarang? Yup Malioboro sudah mengalami perbaikan demi perbaikan yang menguntungkan bagi wisatawan. Saar ini Malioboro tidak hanya berarti sebuah jalan atau kawasan, melainkan menjelma menjadi tempat wisata yang menawarkan banyak hal yang tentu tidak membosankan.

Lesehan? Ada. Musik angklung? Ada. Kehangatan pengunjungnya? Ada. Kerinduan? Ada. Malioboro mungkin selalu berganti dan akan selalu berganti. Namun ada hal yang perlu diketahui. Malioboro tetap Malioboro. Yogyakarta tetap Yogyakarta. Kalau kamu takut rindu, jangan kemari.

Jadi, kamu #BeraniTravelling kemari?

 

1 COMMENT

WordPress spam blocked by CleanTalk.