Wajar Saja Jika Ku Sukabumi-ku

3
43
Pesona langit senja Pantai Karang Bolong (dari dokumen pribadi)
Senja di salah satu pantai di Sukabumi

Ada ungkapan yang terkenal begini; “Fill your stomach with fruits and veggies, your soul with adventures, and your mind with books.” Hidup hanya sekali dan dunia ini begitu luas, banyak daerah yang harus kita lihat dan banyak orang-orang yang harus kita sentuh.

Bagi saya, adventures bukan hanya tentang packing, naik pesawat, foto-foto dengan pakaian terbaik dengan background alam yang keren lalu di upload ke dalam instagram. Bukan hanya Bali atau Labengki yang terkenal dengan pesona pantai dan lautnya, atau Raja Ampat dengan pesona hijau di atas birunya. Lebih dari itu, adventures adalah momen di mana saya #BeraniTraveling yang anti mainstream. Salah satunya dengan traveling ke tempat-tempat yang justru belum banyak di ter-expose di media sosial dan butuh effort yang luar biasa untuk menuju ke tempat tersebut. Selain itu juga, #BeraniTraveling adalah tag line yang mampu mengguncang saraf excitement saya untuk berani beda dalam memaknai setiap perjalanan, bukan hanya sekedar hasil foto-foto yang keren (sekali lagi), tapi setidaknya ada satu hal yang akan dikenang hati dan dirindukan jiwa, yaitu dengan ‘menyentuh’ jiwa-jiwa itu sendiri, menyentuh manusia-manusia yang hidup di daerah pelosok.

Sukabumi. Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata tersebut? Yaps, Sukabumi merupakan salah satu nama daerah di Tatar Pasundan Jawa Barat yang terdiri dari kabupaten dan kota. Kabupaten Sukabumi adalah kabupaten terluas kedua dengan luas kurang lebih 4.161,00 km2. Kebalikan dengan kabupatennya, Kota Sukabumi luasnya hanya 48,42 km2 membuat Kota Sukabumi menjadi salah satu kota dengan wilayah terkecil di Jawa Barat.

Kabupaten Sukabumi terkenal dengan panorama alamnya yang memesona, salah satunya yang sudah diakui oleh UNESCO adalah Geopark Ciletuh. Namun, kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana daya tarik geopark tersebut. Saya akan menceritakan dari pelosok Sukabumi belahan lain, yaitu daerah Cikawung, Kecamatan Cibitung. Dengan akses sekitar 6 jam dari Kota Sukabumi dan harus membelah hutan selama 1,5 jam dengan jalanan terjal yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan khusus.

Dengan latar belakang saya sebagai pendidik dan selalu tertarik dengan perkembangan pendidikan pedalaman, berdasarkan pengalaman saya bersama Komunitas 1000 Guru Sukabumi #BeraniTraveling ke pelosok Sukabumi untuk kesekian kalinya selalu memberikan pengalaman yang luar biasa. Komunitas ini bergerak di bidang pendidikan pedalaman, yang mana pesertanya bukan hanya berprofesi sebagai guru. Namun kami meyakini, bahwa setiap manusia adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah. Jargon dari komunitas ini adalah Traveling and Teaching, makna tersiratnya adalah bersenang-senang sekaligus bermanfaat.

Meski lahir dan besar di Sukabumi, masih banyak daerah yang asing bagi saya. Seperti halnya pesona Cikawung ini yang secara tidak langsung juga meyakini bahwa ternyata masih banyak daerah-daerah tertinggal di Indonesia bagian barat ini yang kurang tersentuh oleh pemerintah setempat.

Hijaunya Kampung Cikawung

Sebuah perkampungan hijau di pinggir pantai yang hanya dihuni tidak lebih dari 40 kepala keluarga. Tinggal berjalan 15 menit dari perkampungan, saya sudah disuguhkan dengan hamparan pantai dengan ombak yang menggulung cukup tinggi pada saat itu. Pantai itu bernama Pantai Karang Bolong.

Pantai Karang Bolong, Sukabumi.

Entah mengapa, saya selalu jatuh cinta melihat hamparan laut dan luasnya langit bertemu dalam satu garis horizontal. Keduanya berbeda, namun sama-sama biru. Sama-sama membentang dan seolah menyimpan keindahan yang dalamnya tak bisa dihitung dengan satuan angka. Jika di siang hari pasirnya jelas terlihat berwarna hitam, memang tidak seindah pantai-pantai di Belitong yang airnya biru dengan pasir yang putih. Tapi ternyata tak terduga, pesona pantai Karang Bolong akan sangat mengagumkan ketika menjelang malam. Bukan hanya langit senja dan matahari terbenamnya, tapi pasir yang tadi hitam itu berubah berkilauan pada malam hari. Dari sekian banyak pantai di Indonesia yang saya datangi, baru kali ini saya melihat pasir pantai seperti taburan berlian dan itu menakjubkan.

Keseruan Relawan Komunitas 1000 Guru di Pantai Karang Bolong, Sukabumi.
Pesona langit senja Pantai Karang Bolong (dari dokumen pribadi)

Esok harinya, setelah memecah rombongan menjadi beberapa kelompok dan menginap di rumah warga (dengan tujuan untuk mengetahui dan belajar bagaimana mereka survive untuk kehidupannya). Kami beramai-ramai menuju satu-satunya sekolah yang ada di Kampung Cikawung yaitu SDN Cikawung yang hanya mempunyai 25 siswa dari kelas 1-6 SD dan hanya mempunyai empat orang guru sudah berikut kepala sekolah yang merangkap tugas sebagai guru kelas.

Hari itu kami menjadi guru sehari. Meskipun hanya sehari, maknanya masih saya rindukan hingga saat ini. Dengan lesson plan yang sudah dibuatkan panitia, kami mengajar dengan bahagia karena bisa menginspirasi anak-anak yang kondisinya jauh berbeda dengan masa kecil kami, sungguh sangat sulit memisahkan keadaan pedalaman dengan keterbatasan yang hampir di segala bidang, ekonomi, pendidikan, sosial, ataupun infrastruktur. Selain mengajar, kami pun membuatkan sebuah perpustakaan mini di SD tersebut dengan harapan anak-anak dengan segala keterbatasannya memiliki wawasan yang tak terbatas, karena mereka juga adalah anak-anak Indonesia, pengambil kendali di masa Indonesia emas.

Keseruan relawan setelah mengajar dengan adik-adik SDN Cikawung (dari dokumen pribadi)

Itulah ratusan kata yang menceritakan #BeraniTraveling versi saya yaitu berani beda, berani menginspirasi, berani memaknai hidup untuk apa dan untuk siapa. Dalam ajaran agama saya diyakini bahwa, “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya.” #BeraniTraveling buat saya, bukan hanya untuk menyenangkan diri sendiri tapi untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang maknanya akan kita syukuri sepanjang hidup dan menjadi candu untuk terus menjadi inspirator kehidupan untuk Indonesia yang lebih baik.

Dari beberapa pengalaman saya #BeraniTraveling ke pelosok Sukabumi, saya semakin menyadari bahwa wajar jika ku Sukabumi-ku (saya Suka-bumi saya). Bumi itu terdiri dari alam dan sumber daya manusianya. Jadi jangan hanya menikmati alamnya, tapi bagaimana kita meng-educate generasi selanjutnya untuk menyayangi alam ini.

Jadi, pelosok mana lagi yang harus saya datangi dan dengan siapa lagi saya harus berbagi inpirasi?

As soon as possible.

PS : Foto-foto dari dokumen pribadi tanpa sentuhan edit apapun.

3 COMMENTS

WordPress spam blocked by CleanTalk.