Bulan berjelajah #Beranitrevelingwitheiger

0
120
11
Lepaskan penat dengan berjelajah. pergi jauh untuk memaknai artinya pulang dan nyamannya rumah.

Sudah berkali-kali saya bilang, Nusantara itu bukan hanya sekedar dalam peta. Maka tak pernah ragu selalu saya gantungkan keyakinan, di suatu saat nanti akan berjelajah Nusantara. Menancapkan tonggak start petualangan di Sabang dan akan tersenyum puas di Merauke. Okay untuk sementara saya harus meninggalkan lamunan petualangan saya. Kembali ke dunia nyata.

Hari itu di kantor saya cuma bengong, melihat pekerjaan berserakan, semakin membenamkan saya dalam lamunana. Iseng melihat-lihat kalender. Ternyata minggu depan, tepatnya tanggal  14 april terdapat tanggal merah. Entahlah tidak ada rencana untuk berpetualang, yang ada hanya beberapa janji dengan kawan, dan di dalamnya tidak lain selalu berhubungan dengan pekerjaan.

Seminggu berlalu, dan tangga 14 april yang bertepatan dengan Maulid nabi Muhammad hanya saya pakai untuk berjumpa beberapa kawan. Berdiskusi tentang pekerjaan meskipun ada pembicaraan menyerempet tentang traveling dan petualangan. Sampailah sebuah tawaran untuk mendaki gunung Rinjani. Tawaran itu datang dari seorang kawan, yang memang hobi mendaki. Jujur saya bimbang, di satu sisi saya sangat ingin mendaki, tapi melihat track record saya dalam dunia pendakian, paling banter hanya beberapa bukit dan kebun ayah saya, hehe. Maklum saya lebih sering berpetualang ke laut dan perkotaan.  Dengan berat hati tawaran mendaki Rinjani saya tolak. Saya cukup sadar diri dan hati, hehe.

Dari sana, saya jadi mempunyai sebuah rencana. Saya lihat kembali kalender. Tidak ada libur panjang atau harpitnas yang menjadi idola para libur hunter . Saya tetap memutuskan untuk membuat sebuah perjalanan yang bisa di lakukan di weekend. Tidak mengganggu pekerjaan dan tidak mengganggu aktifitas saya yang lain. Akhirnya rencana itu saya beri nama. “Bulan Berjelajah “.

Bulan Berjelajah di mulai dari minggu ke 3 bulan april yang  saya rencanakan berakhir  pada bulan mei pada tanggal 13. Dengan strategi seperti itu, saya mendapatkan 4 minggu yang akan saya isi dengan petualangan. Kepikiran kemana saja ?. jawabannya tidak tahu. Saya hanya ingin pergi jauh dari rutinitas, melepaskan energi negatif yang akan di konversi oleh alam dan mengembalikannya menjadi energi positif.  Saya ingin berterimakasih pada jasad yang selalu menemani saya. Di tempa dalam lingkaran rutinitas, dan saya yakin saat ini ia pun ingin terlepas dari himpitan kebosanan.

Tanggal 21 semakin dekat, saya menemukan sebuah  tujuan, yaitu tempat yang di beri nama Gunung Artapela. Sebuah tempat yang sudah saya rencanakan dari dulu dengan beberapa kawan. Tapi dikarenakan selalu ada halangan, maka kesempatan kali ini tidak akan saya lewatkan.  ketinggiannya mencapai 2194 mdpl. Gunung artapela berlokasi di kecamatan kertasari kabupaten bandung.

Mantap satu tujuan telah saya buat, tinggal  mengisi minggu lainnya, singkat cerita tujuan minggu berikutnya pada tgl 28 april saya meluncur ke kawasan geopark pelabuhan ratu, dan minggu terakhir saya isi dengan mendaki ke gunung gede. Betul sekali mimpi saya mendaki gunung yang tinggi akhirnya terpenuhi.

Sebelum berlanjut menceritakan perjalanan , saya akan memperkenalkan beberapa equipment yang selalu menemani saya, jelas dong dengan semangat  #eigeradventure , maka beberapa produk eiger ini nyaris tidak pernah absen menemani semua petualangan saya. Lebih khususnya di bulan berjelajah ini. 

Yang pertama adalah tas slempeng biru, ini salah satu barang yang paling akrab dengan saya. Bagaimana tidak, selain ia menemani di tiap perjalanan, ia juga selelu menemani saya dalam kegiatan sehari-hari, tugasnya sebagai tas untuk barang-barang kecil yang harus selalu siap ketika di butuhkan seperti kunci, handphone dan dompet, selain itu dikarenakan sekarang musim hujan, maka ponco saya selalu setia berada dalam si slempeng biru ini.

 Kecil tetapi mempunyai fungsi maksimal, itulah kegunaan dari si slempeng biru.

Sandal, kupluk dan slayer. Tiga benda ini saya bilang bersaudara, dikarenakan mereka saya beli pada tempat dan waktu yang sama. Saya membelinya di eiger store cihampelas, salah satunya saya beli dengan harga diskon. Benda-benda ini saya persiapkan untuk melengkapi peralatan saya ke gunung Artapela. Tapi setelah dari sana, nyaris setiap pendakian peralatan ini tidak pernah absen mendampingi saya. Salah satu yang krusial adalah sandal gunung eiger. Saya menyelamatkan teman  di gunung Gede. Teman saya dengan ceroboh tidak mengecek kondisi sepatunya, sehingga ketika pendakian, sol dari sepatunya lepas dan  menyebabkan tidak bisa di pakai .kalo di paksakan sangat menyulitkan pendakian. Berhubung saya membawa sepatu dan sandal. Maka sandal saya akhirnya di pakai kawan saya. Dengan riang gembira ia bisa melanjutkan perjalanan sampai kembali di bawah gunung dengan selamat.

 Lengkapi persediaan dulu di eiger store.


Perlengkapan yang nambah kehangatan sekaligus ke kece an xixix.

Sandal gunung penyelamat.

Sleeping bag pinjaman. Ada beberapa benda  yang saya simpan di rumah, salah satunya sleeping bag. berhubung saya ngekos di Bandung, dan kalau memaksakan pulang untuk mengambil sleeping bag di Cianjur. Itu cukup membuang waktu dan tenaga, maka saya memutuskan untuk meminjam sleeping  bag pada salah satu kawan. Beruntung dia meminjamkannya dan sedang tidak di pakai. sleeping bag eiger ini memeluk saya dengan mesra di gunung Gede. Dia menyelamatkan saya dari suhu 13 drajat celcius di waktu itu.

Di artapela saya masih bisa memaksakan pake sarung, tapi di Gede saya di temenin sleeping bag pinjeman ini.

Menuju Artapela dari Bandung menggunakan sepeda motor, tentunya pergi tidak sendiri, selalu ada kawan-kawan yang sevisi dan senang asruk-asrukan (blusukan). Julung-julung invation menjadi identitas kami ketika berpetualang, nama bodoh yang selalu kami banggakan. Selain nama julung-julung kami juga mengemban nama linka, namanya sedikit serius, dengan singkatan dari lintas khatulistiwa. Biarlah nama itu menjadi penyemangat kami untuk terus eksplore nusantara.

Ada ide menarik ketika mengunjungi artapela. Sebetulnya jika saya mengacu pada informasi dari dunia maya. Maka pos untuk pendakian dapat kami akses melalui pos ciparay, eh dasar jiwa ngeyelnya muncul, maka kami punya rencana sendiri. Berbekal dari informasi teman saya yang berasal dari pangalengan asli.  Katanya Artapela dapat di akses melalui pangalengan. Nah kalo seperti itu cocok, saya bisa menambah tujuan perjalanan. Maka di putuskanlah mengunjungi Curug panganten.

Akses menuju curug panganten lumayan asik. Asik dari segi petualangan dan pemandangan. Di suguhi landscape alam yang menakjubkan berikut  jalan terjal bebatuan, bahkan kadang motor belalang tempur saya harus sedikit nyelem di kubangan lumpur. Akses menuju curug panganten melewati area perkebunan, dari tempat parkir paling hanya memerlukan waktu tempuh 15-20 menit sudah sampai.Fasilitas seadanya dengan parkir yang hanya di titipkan ke sebuah warung, tanpa tiket resmi alakadarnya. Tapi entah kenapa bagi saya, yang seperti ini malah semakin memacu jiwa petualangan.

 

begaya dulu di curug panganten.

Singkat cerita saya bersama kawan- kawan tiba di curug , suasananya masih virgin, wooow. Masih belum terjamah tangan komersial, dengan senang hati saya langsung buka baju dan main air layaknya anak kecil.Perjalanan yang sedikit memakan waktu terbayarkan. Jenis air terjun ini masuk dalam air terjun kembar. Dengan jarak jatuh air yang lumayan tinggi, pasti membuat semua ingin mengabadikan momen ini. Setelah puas bermain, kami lanjutkan menuju gunung artapela, dengan sedikit info kami tiba di pos artapela yang berada di pangalengan, di luar ekspektasi, ternyata ini hanya pos bayangan. Jalur ini di kelola oleh orang setempat, no tiket, no simaksi, hanya 20rb untuk penitipan motor. Yups apa boleh buat, keputusan sudah di pilih dan kita akan terus maju.

Track Artapela jalur  pangalengan  lumayan membingungkan, terlebih kami yang baru pertama kali. Sedikit info dari orang yang menjaga pos, ikuti saja jalur motor. Dan jalur motor yang kami ikuti malah nyasar di kebun  hahah . Beruntung di kejauhan kami menemukan rombongan pendaki, maka dengan beberapa perdebatan lucu, kami putuskan mengikuti mereka dari belakang. 

Itu menjadi pilihan yang benar, kami sampai di Artapela, suasana sudah gelap di tambah hujan yang terus mengguyur dari pertengahan jalan.  Dengan gesit langsung saja kami mendirikan tenda. Malam semakin larut, beruntung hujan mereda di malam hari, sambil menikmati segelas kopi dan masakan ala gunung, kami menikmati Artapela.

 

 Pagi hari suasana hangat menyapa kami, seakan ngasih tau. ini loh Artapela.

Perjalanan selanjutnya setelah jeda stu minggu karena ada halangan. Saya meluncur ke daerah Pelabuhan ratu. Kali ini liburannya sedikit koper, karena memakai fasilitas liburan kantor. Segala akomodasi dan fasilitas di biayai kantor, saya hanya tingga nongkrong manis dan menikmatinya. Menjajal suasana pantai sambil bermain bola, menjamah air terjun cikanteh yang berada di wilayang geopark dan tentu saja makan ikan sepuasnya haha.

 

“Rasakan tendangan tanpa  bayang-bayang mantan ini bro !”.

Tepat sekali kawasan ini  masuk ke dalam list UNESCO, keren abisssss.

Dan terakhir sampailah pada minggu yang di tunggu, Gunung Gede kami datang. Dengan persiapan fisik yang sudah bisa di katakan lumayan, saya bersama lima sahabat julung akan menaiki gunung gede via Cibodas. Kata teman saya track ini lumayan mengasikan, tetapi agak lama. Dengan jalan yang lebar, tetapi membutuhkan waktu tempuh yang lumayan kami mulai mendaki.

Perjalanan cukup menyenangkan tidak ada hambatan, kecuali memang kondisi fisik yang boleh di kata amatir xixix, belum lagi melihat beberapa kawan yang usianya sudah bisa di bilang tidak muda, padahal pada masa mudanya dia seorang pendaki. Maklum umur dan pola hidup, kawan saya harus mengakui, comebacknya ke gunung tidak semulus hayalannya, biarlah cerita masa lalu cukup di kenang, realitanya nanjak dikit dengan beban carier  70L sudah membuat dia sadar akan kondisi.

Selama perjalanan saya takjub, euforia anak muda terhadap naik gunung semakin meningkat. Naik gunung tidak hanya menjadi milik anak-anak nekad dan petualang beringas. Tetapi untuk keluarga bersahaja, ukhti-ukhti cantik dengan kerudungnya dan anak kecil usia belasan juga kerap hadir dalam pendakian. Saya melihat satu keluarga yang benar-benar memakai hijab dan baju syar’i, meskipun secara prosedural itu cukup menghambat pergerakan, tetapi dengan iman dan keyakinan. Mereka tiba dengan selamat. Luar biasa, ketika keterbatasan tidak menjadi halangan.

Kami camp di kandang badak, mencari letak yang sangat strategis. Di antara kerumunan orang akhirnya kita mendapat spot yang lumayan asik. Di naungi pepohonan yang rimbun lalu dataran yang lumayan rata, cukup menjadi modal kami membangun tenda dan menciptakan kawasan layaknya meikarta hahaha.

Dini hari kami berangkat, menyusuri kegelapan, mata sepet badan yang masih agak ringsek tak menghalangi kami untuk tiba di puncak. Udara dingin sesekali membuat badan ini harus bertahan lebih keras. Tapi kehangatan sesama pendaki, dengan saling sapa ketika mendahului atau di dahului akan selalu menjadi kehangatan tersendiri di antara 13 derajat celcius yang kami rasakan. Insiden terjadi, kawan kami tidak cukup mempersiapkan sepatunya. Dia meminjam sepatu kepada kawannya tetapi tidak memeriksa dulu kondisinya. Akhirnya sol sepatunya lepas, tidak hanya satu, tetapi dua duanya. Untunglah saya membawa sandal gunung eiger. Itu sangat membantu dia.

 

Puncak di depan mata, dan saya pikir ini bukanlah akhirnya. Memang benar menaiki gunung itu candu, semakin kita menaklukan ketinggian, senantiasa kita ingin selalu lebih. Memasang target baru di kepala, membayangkan perasaan puas ketika sampai pada titik tujuan. Dan begitulah gunung ikut membiusku untuk terus mengabadikan namanya di dalam pikiranku.

Tapi saya selalu memegang teguh sebuah pepatah dari pendaki senior, bahwa puncak bukanlah tujuan, tujuan sebenarnya adalah kembali ke rumah dengan selamat. Maka saya ucapkan terimakasih untuk perjalanan penutup di bulan berjelajah kali ini. Gunung gede mengajarkan apa artinya gede, yang dalam bahasa indonesia artinya besar. Berbesar hati, berbesar keyakinan serta selalu menganggap di atas besar ini ada Tuhan yang maha besar. Terima kasih bulan berjelajah, terima kasih kawan julung-julung. Serta terimakasih untuk event ini #Pigijoxeiger, sehingga saya dapat membagi cerita saya. Semoga bermanfaat. Salam literasi salam lestari.

#Beranitrevelingwitheiger

#pigijoxeiger

#eigeradventure

WordPress spam blocked by CleanTalk.