Menikmati Suguhan Gunung Sumbing #BeraniTravelingWithEiger

0
57
DSCF0712

Ya, akhirnya penantian 2 tahun terselesaikan juga. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana Merbabu menunjukkan pesonanya tepat di depan mata saya. Gulungan awan, Sabana, kabut, sunrise, udara, dan apapun mengenai Merbabu bagai candu bagi saya (astaga,saya terharu). Merbabu adalah gunung pertama yang berhasil membuat saya jatuh cinta akan puncak Indonesia. Cantik sekali (seketika saya kembali kepada dua tahun lalu dimana saya menikmati semua yang disajikan Merbabu kepada saya, ah) Inilah yang membuat saya selama dua tahun seperti orang kebingungan dan panik, mencari semua orang yang juga tertarik akan puncak-puncak Indonesia. Hingga waktunya pun tiba, tahun inilah waktunya. Kalau kata orang sih “Mountain are calling, I must go”
#ciyegitu
 
Tidak ada yang kebetulan
Saya kenal dia , dia kenal dia, ternyata dia ini dan ternyata dia itu. Bermula dari saya Bernie (baru dikenalin), Bimo (baru kenal yang ternyata anak UMN juga), dan Anggie (my beloved best friend! kiss!), lalu Lusy (temen gereja, yang belum deket), ditambah Tari (temen gereja, yang baru pulang dari negeri orang), disusul ka Prima (temen gereja baru kenal, domisili di Melbourne).  Semuanya ya terjadi begitu saja, Maha Kuasa telah menggariskannya untuk kami. Sampailah pada keputusan kami untuk memilih Sumbing atau Sumbing yang telah memilih (?)
 
26/04/18
Perjalanan dimulai dari stasiun Rawa Buntu Serpong ke Pasar Senen. Sekitar pukul 22.30 kami berangkat dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto, menggunakan kereta ekonomi seharga Rp140.000 yang telah kami pesan satu bulan sebelumnya. Setelah melalui drama di awal perjalanan karena hampir ketinggalan kereta, berangkatlah kami menuju stasiun Purwekorto. Perjalanan berlangsung selama kurang lebih 6 jam.
 
27/4/18
Tibalah kami di stasiun Purwokerto di pukul 4 pagi. 
Pendakian Sumbing kali ini kami menggunakan jalur Kaliangkrik. Melalui studi literatur yang telah dilakukan, walau jalur ini lebih jauh namun hal ini tidak dapat membuat kami mengelak, Kaliangkrik memiliki banyak sekali pemandangan bagus (bonus) dan terdapat mata air di jalur ini. 
Butuh sekitar 4 jam lagi untuk kami dapat sampai ke pendakian jalur Kaliangkrik dari stasiun Purwokerto. Kami menyewa sebuah mobil dari stasiun menuju Kaliangkrik denga harga Rp750.000. Sekitar pukul 8 pagi kami sampai di basecamp Kaliangkrik. Pendakian sudah di depan mata, kami perlu beradaptasi dengan Kaliangkrik. Kaliangkrik pun menyambut kami dengan hangatnya, cerah sekali cuaca hari itu. Di basecamp hanya ada rombongan kami, jadi kami dapat bersantai ria. Mulai dari sarapan, mengobrol, mencicipi kopi ka prima dan mengagumi seperangkat peralatan kopinya yang lengkap, membagi beban carrier, dan yang paling penting kami bisa sampai membuat nasi goreng di dapur basecamp. Alhasil kami memiliki bekal untuk makan siang di pendakian kami siang itu. Terima kasih kepada chef Tari.
Semua telah rapih, tekad dan niat kami telah bulat, saatnya kami memulai pendakian di pukul 10.30
“Sumbing..bing..bing..!”

Seperti jalur pada umumnya, pendakian diawali dengan menyisir lahan penduduk lokal. Sangat rapih dan indah. Maklum, sudah jarang sekali melihat yang seperti itu di Tangerang, tempat saya berdomsili saat ini. Pukul 12.15 sampailah kami di pos 1. Melanjutkan ke pos 2 memang tidak gampang. Trek menanjak tanpa ampun. Melihat Ka Prima yang sudah tidak tahan lagi, karena otonya yang “ketarik” kami pun harus berhenti dan istirahat makan siang sebelum mencapai pos 2.  Terima kasih kepada Bimo yang telah membantu memijit-mijit ka Prima wkwk, sangat membantu. Dari pos 2 ke pos 3 tidak seberat pos sebelumnya. Jalanan lebih banyak memutar dan landai. Belum lagi ditambah dengan pemandangan Sumbing yang .. indah? Cantik? Mempesona? apa yang harus saya tuliskan untuk menggambarkannya. Rasanya semua terasa lebih dari kata-kata itu.
Tak jarang kami berhenti lama demi menikmati suguhan Sumbing.
 
Tariklah napas sedalam-dalamnya,
Biarkan semua panca indera merasakannya 
Biarkan setiap nya merasakan pesonanya
 

Hari mulai gelap, mata mulai sulit untuk melihat, apalagi tenaga yang sudah terkuras selama 6 jam lebih, namun pos 4 belum terlhat pula. Semakin malam, semakin kami menjauhi permukaan laut, semakin dingin malam itu. Buru-buru saya mengeluarkan jaket eiger andalan saya. Untunglah saat itu tersedia waran orange, warna yang pas untuk perempuan.

Kami nyaris saja kehilangan arah. Jujur saja, itu sudah benar-benar di ambang batas saya, yang saya ingat saya hanya diam tidak mampu berkata banyak dan melihat ke mana sepatu Bernie melangkah, karena selebihnya tak jelas di pandangan saya. Melihat ke atas atau ke sekeliling pun sudah tak sanggup, dingin dan gelap. Hingga terdengar teriak Bimo “Pos 4!”. Hhh.. akhirnya saya dapat bernapas lega.
Sekitar pukul 9 malam kami mendirikan tenda di tengah dinginnya Sumbing malam itu. Hanya ada tenda kami di sana, sampai tengah malam barulah ada tenda lain. Buru-buru kami memasak mie instant, saya pun makan apapun yang tersedia untuk melawan dingin yang hebat malam itu. Tidak seperti bayangan saya saat di Merbabu (maklum saya hanya baru ke Merbabu dan Sumbing ini) dimana terdapat Sabana luas tempat untuk bermalam yang nyaman, pos terakhir Sumbing via Kaliangkrik tidak luas. Bahkan kami mendirikan tenda di tempat yang miring, sampai-sampai tak sadar kami merosot turun saat tidur.
 
28/4/18
Summit Attack
Rencana memburu Sunrise saat di puncak pun tinggalah sebuah wacana. Namun rasanya tak perlu pula menyesal. Dari pos 4 pun kami dapat menyaksikan Sunrise yang menakjubkan. Inilah klimaks yang saya cari saat pendakian.
 
dimana saatnya menunggu bukan ditunggu
dimana setiap detik begitu memuaskan candu
namun kembali membuat candu


 
Setelah puas menikmati matahari terbit,  matahari pulalah yang membawa kami untuk melanjutkan untuk ke puncak. Sekitar Pukul 6.40 kami mulai penyelesaian pendakian Sumbing ini. Medan cukup sulit dan tak jarang kabut melewati kami, namun tak memutuskan langkah kaki kami. Setelah 2 jam perjalanan sampailah kami kepada Puncak Selo Konten, Puncak pertama Sumbing via Kaliangkrik. Tentu tak puas hanya dengan puncak pertama, kami lanjutkan ke puncak Sumbing lainnya.  Kurang dari setengah jam perjalanan, sampailah kami di Puncak Sejati 3371 mdpl. Semua lega, terasa begitu cepat berlalu. Indah sekali. Melihat indahnya Indonesia dari puncak Sumbing. Ucapan syukur yang tiada henti bagi Sang Pencipta yang telah berkenan atas perjalanan kami.

#BeraniTravellingWithEiger #Pigijoeiger #EigerTropicalAdventure

WordPress spam blocked by CleanTalk.