Menguji Nyali di Tana Toraja

0
118

Saya termasuk orang yang realistis. Percaya tak percaya, sebenarnya, kalau ada yang bercerita tentang pengalaman mistisnya di suatu tempat. Tapi, penasaran juga. Apalagi kalau tempat tersebut merupakan tempat wisata.

Satu tempat yang biasanya sering diwanti-wanti angker adalah kuburan. Ini bukan tempat favorit saya, kecuali untuk berziarah. Tapi, kalau memang menjadi viral, saya rela berkunjung demi merasakan sensasinya.

Satu pekuburan yang pingin banget saya datangi adalah Londa dan Lemo di Tana Toraja. Keduanya merupakan komplek pemakaman, tapi mayatnya bukan dikubur di tanah, melainkan hanya ditaruh di sela-sela dinding gua dan tebing batu.

Kalau sekadar peti, apalagi tertutup dan tersimpan di dalam dinding, saya pikir tidak akan seram-seram amat. Yang bikin mencekam, barangkali, patung-patung yang dipajang di sana. Patung-patung tersebut adalah miniatur dari mereka yang telah meninggal. Bahkan, kain yang membungkusnya sama persis dengan pakaian yang sering dikenakan mendiang.

Selain itu, yang bikin bulu bergidik, jika masuk ke dalam gua, pengunjung akan melihat tengkorak dan rangka tubuh mereka yang telah lama dikubur di sana. Alih-alih ditakuti hingga sepi pengunjung, justru kearifan lokal inilah yang memancing wisatawan datang. Saya pun tidak ingin ketinggalan.

Bukan hanya itu keunikan Tana Toraja. Di Kampung Kambira, tidak jauh dari pekuburan batu ini, terdapat pohon yang merupakan kuburan bayi. Tapi, ritual tersebut sudah lama ditinggalkan. Tetap saja, saya ingin melihatnya.

Lepas dari kuburan, mumpung di Tana Toraja, pastinya saya ingin mengunjungi komplek rumah tradisional Tongkonan di Desa Kete Kesu. Rumah-rumah beratap khas ini kerap menghiasi brosur-brosur wisata, dan saya ingin mengunjunginya secara langsung.

Sebenarnya cuma tempat-tempat tersebut yang membuat kaki saya gatal ke Tana Toraja. Pingin lihat kerbau bule juga, sih, dan makin lengkap kalau pas sedang ada upacara adat, misalnya Rambu Solo. Itu adalah upacara pemakaman yang biayanya cukup mahal, hingga butuh persiapan berbulan-bulan. Jadi, bisa tahu bagaimana cara mereka meletakkan jenazah di bagian yang paling tinggi, karena itu dianggap tempat terbaik.

Traveling ke sini adalah rencana saya buat tahun depan. Biasanya solo backpacking, tapi kalau ada partner jalan, bakal lebih asyik, karena tidak ada transportasi umum yang langsung ke sini. Mesti nyambung kendaraan lain atau sewa motor. Kalau ada teman, selain bisa patungan, siapa tahu nggak kerasa banget aura-aura mistisnya.

Tapi, biar nggak repot, ngetrip bareng Pigijo sepertinya lebih seru. Kebetulan ada paket Liburan Murah 3H2M ke Tana Toraja. Harganya juga lumayan. Selain ke Toraja, peserta bakal diajak juga ke destinasi wisata alam di Makassar. Rammang-Rammang, tuh, yang pingin banget saya lihat, karena merupakan gugusan karst terbesar ketiga di dunia.

Rencananya saya bakal ambil waktu selama 5 hari. Berikut rinciannya:

Hari 1: Bengkulu – Jakarta – Makassar (Nginap semalam di Makassar)

Hari 2-4: Ambil paket 3H2M ke Tana Toraja dari Pigijo.

Hari 4 : Makassar, jalan-jalan seputar kota sambil wisata kuliner: konro, coto Makassar, palubutung, dll. Tidak lupa membeli minyak tawon tutup merah.

Hari 5: Makassar – Jakarta – Bengkulu

WordPress spam blocked by CleanTalk.