Hutan Mati Papandayan, Misteri dibalik ke Eksotisannya

2
77

Sobat Jo,

Apakah kamu sudah pernah mendaki gunung? Bila belum, Gunung Papandayan adalah pilihan yang baik untuk pemula. Diawal pendakian jalannya sudah diaspal halus, jalur trekkingnya banyak yang datar dan landai, penunjuk jalan yang jelas dan rapi, juga hampir disetiap pos jaganya tersedia toilet dan musholla. Warung tersedia di beberapa titik, sehingga pendaki tidak perlu terlalu banyak membawa perbekalan dan minuman.

 

Puncak gunung Papandayan disebut Tegal Alun dengan ketinggian 2665 mdl, dan sepanjang perjalanan kesana Sobat Jo bisa melihat pemandangan yang indah, sejumlah kawah, kolam air panas, hamparan bunga Edelweiss, serta satu tempat yang istimewa dan mungkin susah ditemukan di tempat lain, yaitu Hutan Mati Papandayan. Letaknya didekat dengan kawah Papandayan dan disamping camping ground Pondok Saladah, pastinya kamu akan melewati kawasan Hutan Mati ini dalam perjalanan menuju puncak.

Karena jalur trekking gunung Papandayan ini cukup bersahabat dan sudah terbina, Sobat Jo bisa mendaki bersama keluarga dan anak-anak. Sepanjang perjalanan mata akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah. Untuk sampai ke puncak hanya dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam berjalan kaki melewati kawah belerang dan menanjak, dengan catatan ga banyak berhenti di perjalanan ya.

Meskipun namanya terdengar menyeramkan, namun Hutan Mati ini sangat eksotis dan memukau, loh Sob. Disini terhampar batang-batang pohon Cantigi yang sudah mati diterpa semburan vulkanik bertahun-tahun lalu, bahkan ada yang sampai menghitam. Batang-batang pohon mati Cantigi tak berdaun tersebut dipadukan dengan hamparan tanah putih, menimbulkan pesona keindahan yang mencekam.  Kabut yang kadang turun menambah pesona dramatis kawasan ini. Kalau Sobat Jo berkunjung kemari, waktu yang paling baik adalah pada saat senja atau ketika menunggu matahari terbit.

Dibalik keindahan Hutan Mati yang begitu memukau, ada sejarah kelam yang melatarbelakangi terbentuknya kawasan ini. Ratusan tahun silam, tepatnya pada tanggal 11 sampai 12 Agustus 1772, gunung Papandayan meletus tanpa peringatan apapun. Letusannya begitu dahsyat sehingga ditulis dan digambarkan oleh sejarahwan mancanegara Lee Davis dalam bukunya berjudul Natural Disaster. Lahar vulkaniknya turun mengalir dan membumi hanguskan 40 desa di gunung tersebut, mengubur kurang lebih 3000 penduduk yang hidup disekitarnya, tak terkecuali hewan-hewan peliharaan yang ada disana. Hutan Mati seolah menjadi saksi yang tersisa dari bencana alam tersebut.

Sekarang, di sekitar Hutan Mati mulai ditumbuhi tunas-tunas hijau. Meski begitu tidak mengurangi pesona mencekam Hutan Mati yang begitu instagramable sehingga sering dipakai untuk sesi foto pre-wed, iklan, video shooting dan sebagainya. Oh ya, kalau Sobat Jo tiba disini selepas hujan, lebih merzmerizing loh. Soalnya genangan air dan kabutnya bikin suasana makin dramatis!

Tapi meskipun begitu greget, disini tidak boleh mendirikan tenda, ya. Terlalu berbahaya karena terkadang aroma belerang yang dikeluarkan oleh kawah didekatnya terendus dari sini. Kalau mau menginap dan mendirikan tenda, disediakan tempat di Pondok Salada, sekitar 10-15 menit dari Hutan Mati. Tempat ini jauh dari kawah belerang, luas seperti tanah lapang, dan sumber air so dekat.. ada juga toilet dan mushollanya. Nyaman lah pokoknya.

Kalau Sobat Jo ada kelupaan peralatan mendaki, di lapangan parkir Papandayan banyak pemandu yang menyewakan peralatan tersebut. Mereka juga menjual beragam suvenir menarik gunung Papandayan seperti kaos, kalung, gelang dan aksesori lainnya yang terbuat dari bahan alam.

Ayo pigi-pigi kesana, Jo!

 

Writted by Dhee

2 COMMENTS

WordPress spam blocked by CleanTalk.