Leak Bali dan Misteri dibelakangnya

0
21

Jika kamu cukup lama menghabiskan waktu di Bali dan berinteraksi dengan masyarakat lokal Bali, kamu mungkin akan mendengar cerita tentang Leak, sebuah ilmu magic yang sangat terkenal di Bali. Terkadang, sulit sekali untuk mempercayai hal di luar nalar ini, tapi seringkali justru membuat kamu menjadi penasaran. Pigijo Travel Planner akan menjelaskan, apakah sebenarnya Leak itu.

Ada dua jalur ilmu kebatinan di Bali, yaitu ilmu hitam (Pengiwa) dan ilmu putih (Panengan), dan keduanya seperti juga gelap dan terang, malam dan pagi, adalah hal berlawanan namun merupakan bagian dari satu kesatuan. Terkadang kamu bisa menggunakan ilmu ini untuk menolong yang sakit, namun juga harus menggunakannya untuk melawan orang yang jahat. Ilmu Leak sendiri dianggap sebagai ilmu hitam.

Ilmu Leak dipercaya diturunkan dari seorang wanita sakti bernama Calonarang yang hidup di kerajaan Kediri, Jawa Timur pada masa pemerintahan Airlangga (1006 – 1042 M). Dan setelah kematiannya, pengikut Calon Arang melarikan diri ke Bali untuk kemudian melestarikan ajarannya. Kisah ini dituliskan dalam dalam naskah daun lontar berbahasa Bali Kuna bertahun 1540 masehi. Ilmu Leak Bali dipercaya sebagai salah satu ilmu sihir Calonarang yang masih ada sampai sekarang.

Dalam suku Bali, Leak memiliki imej yang buruk, karena seringkali dipercaya bahwa Leak bisa membuat seseorang menjadi sakit atau bahkan meninggal. Seseorang yang ingin belajar ilmu Leak, harus mendedikasikan hidupnya pada Dewi Durga, sang dewi kegelapan. Setelah menyatakan kesetiaan pada dunia hitam, memberikan persembahan dan melakukan ritual doa seperti menari-nari di atas kuburan, seseorang dapat berubah menjadi Leak.

Leak dapat berubah wujud menjadi binatang, hantu berapi (Endih), setan dan objek apapun yang ia inginkan. Ada beberapa jenis bentuk Leak yang dikenal. Pertama, Leak Pamoran. Ini adalah Leak yang berubah bentuk secara menyeluruh menjadi sebuah binatang dan hanya terjadi saat malam hari. Mereka biasa menghisap darah korban, memakan bangkai atau hanya bertujuan untuk menakut-nakuti.

Bentuk kedua adalah, Teluh. Hanya ekspresi wajah Leak yang berubah, wajahnya membengkak, mata melebar dan mengeluarkan sinar. Mereka bisa muncul saat siang hari dan biasanya mereka berubah wujud saat melakukan perkelahian.

Bentuk ketiga adalah bentuk yang tertinggi, yaitu Tranjana. Ia dapat berubah pada saat siang dan malam hari, dan seringkali hanya berupa bayangan atau malah invisible yang bisa dengan tiba-tiba mencekik lawannya.

Untuk mencelakai atau membunuh musuhnya, Leak juga dapat melakukan ilmu berkelahi secara gaib atau Papasangan.Dengan cara ini, dua leak yang bertempur tidak perlu saling berhadapan secara fisik, dan bisa dilakukan dari tempat yang berjauhan. Seringkali terlihat seperti bola api yang berbenturan di langit dengan suara yang keras, dan bagi yang kalah akan terlihat luka-luka di fisiknya ataupun meninggal.

Baca Juga : Berapa Banyak yang Bisa Kalian Lakukan Di Bali dengan $100 Selama 24 Jam?

Kejadian “perang Leak” paling fenomenal pernah terjadi di Ubud pada tanggal 12 Maret 1995. Saksi mata menyatakan ada 4 bola api saling berbenturan di langit dan terjadi selama 3 jam sebelum matahari terbenam. Beberapa turis nasing dikabarkan ikut menyaksikan pertarungan itu.

Seorang master Leak yang terlatih, mengubah wujudnya dengan cara berkonsentrasi pada bentuk benda atau binatang yang dia inginkan, lalu merapalkan sejumlah mantra, dan ia akan berubah menjadi sosok Leak tersebut. Leak dianggap sesuatu yang lebih rendah derajatnya dibanding manusia, karena ia suka memakan bangkai dan segala sesuatu yang sudah busuk.

Sebenarnya Leak tidak seburuk yang orang kira. Seperti sebuah pisau yang memiliki dua sisi, ilmu ini dapat menolong ataupun mencelakakan, tergantung dari tujuan mempelajarinya. Seperti juga ilmu kebatinan yang lain, yang hidup dalam masyarakat dan berkembang bersama budayanya, Leak selalu akan menjadi bagian dari Bali.

 

Written by Melisa Oktavia

WordPress spam blocked by CleanTalk.