Selong Belanak, Destinasi Spesial Valentine Temani Weekend Kamu dengan Si Dia

0
80

Pantai adalah destinasi yang tepat bagi kami untuk mewakili romantisme. Tempat lautan dan daratan bertemu, terasa magical dan powerful secara bersamaan. Untuk memperingati Valentine tahun ini, kami mengunjungi Lombok untuk mendapatkan ketenangan yang sekarang sulit didapatkan dari Bali. Perjalanan dimulai dari Jakarta, dengan direct flight menuju Bandar Udara Internasional Lombok.

Bagi pasangan pemalas seperti kami, itinerary perjalanan kami jauh dari aktivitas adventure karena ultimate goal berlibur adalah, bersantai di pinggir air melupakan sejenak hiruk pikuk dan kebisingan kota Jakarta. Lombok dengan pantai-pantainya yang jernih dan berpasir putih lembut, akan menjadi destinasi utama untuk melewati Hari Kasih Sayang kali ini.

Pantai Selong Belanak

Terletak di sebelah barat dari Kuta- Lombok, tempat dimana kami menginap, Pantai Selong Belanak adalah tujuan kami hari ini. Kami menyewa motor yang tersedia di penginapan dengan biaya Rp. 50.000 untuk seharian, dan berkendara ke sana selama kurang lebih 30 menit mengikuti petunjuk dari petugas penginapan. Sebisa mungkin kami tidak mengandalkan smart phone selama pergi berlibur, untuk mengenang perasaan kembali ke alam yang lebih otentik dan juga untuk menghindari godaan mengecek email dan text. Untungnya petunjuk menuju ke sana cukup jelas, sehingga mencari lokasi menggunakan GPS di smartphone, tidak diperlukan.

Bukit tandus dan rumah-rumah sederhana adalah pemandangan yang umum di sepanjang jalan menuju ke Pantai Selong Belanak. Jalanannya kecil tapi terasa leluasa karena tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di sini. Walaupun mulus dan sudah diaspal, namun cukup menantang di beberapa tempat karena tanjakan dan turunannya yang ekstrim. Setelah berkendara selama 20 kilometer, tanda lokasi Pantai terlihat di sisi jalan.

Dari tempat parkir, berjalan menuju ke pantai sekitar 100 meter, kami harus melewati warung-warung terlebih dulu, sebelum sampai di pantai. Kesan pertama saat tiba adalah, luas! Pantai yang memiliki garis pantai sekitar 1 kilometer ini meskipun ramai, tapi tidak terasa sesak karena sangat besar. Di bibir pantai yang seluas 10 meter ini, berjejer warung-warung makan dan kursi payung yang disewakan. Kami menyewa satu kursi dengan biaya Rp. 100.000 untuk seharian, menitipkan pesan kepada penjaga warung untuk memperhatikan tas bawaan kami dan melangkah menuju pantai.

Pasir pantai yang putih terasa sangat lembut dan empuk, permukaan pantai datar tanpa ada gundukan pasir dan batu karang. Air laut hangat berwarna biru terasa menyatu dengan warna langit yang juga biru, menciptakan gradasi warna yang mengagumkan seperti lukisan pantai yang sempurna. Kami memutuskan berjalan ke arah kanan, ke bagian pantai yang lebih sepi untuk mendapatkan foto yang lebih baik. Kami mengambil beberapa foto cantik di sini, dengan tebing hijau sebagai latarnya.

Kemudian kami berjalan kembali ke selatan, ke tempat yang lebih banyak pengunjungnya. Di sini terdapat beberapa surfing board yang disewakan dan dengan membayar Rp. 300.000 bisa mendapatkan pelajaran surfing dasar dari instrukturnya. Banyak terlihat pelancar pemula di sini, mungkin karena ombak dan struktur pantainya cocok untuk belajar surfing. Jadi buat kami yang yang sama sekali belum bisa surfing, tidak merasa malu untuk bergabung dan belajar. Tapi ternyata, surfing itu tidak semudah yang terlihat. Perlu kesimbangan dan kekuatan otot kaki dan perut untuk dapat berdiri di atas papan surfing, dan setelah beberapa kali mencoba, kami memutuskan bahwa surfing tidak ditakdirkan untuk kami.

Setelah lelah bermain di pantai, kami kembali ke kursi yang tadi telah disewa untuk bersantai sejenak, menikmati segarnya air kelapa dan pelbagai cemilan sederhana. Sambil duduk ditemani sejumlah anjing liar yang akrab dengan pengunjung, kami mengamati keadaan sekitar. Semua tampak asyik dengan kegiatannya sendiri. Ada yang bersantai tiduran di kursi, ada yang bermain dengan pasir, beberapa orang berseluncur, dan sebagian lagi berenang di pantai. Dunia seakan berhenti pada momen terbaiknya, saat semua orang berbahagia dan alam memberikan porsi tercantiknya untuk dinikmati. I wished, everything would stay this way, forever.

Cukup dengan khayalannya, kami berjalan kembali ke arah selatan, tempat para nelayan menjual hasil tangkapan lautnya. Di sini mereka juga menerima jasa memasakan sea food yang telah kita beli, dengan harga yang sangat reasonable. Tanpa bumbu yang berlebihan, sea food ini terasa sangat segar karena fresh dari laut. Kami menyantap ikan bakar dengan bumbu angin semilir dan suara deburan ombak, sesuatu yang jarang didapatkan di kota besar. Benar-benar satu pengalaman yang menyenangkan.

Kami tinggal beberapa lama lagi di sana untuk menunggu sunset, sambil sesekali tertidur di kursi malas. Dan ketika perlahan matahari turun ke garis horizon di ufuk barat, langit yang awalnya biru berubah menjadi jingga. Laut yang biru juga berubah menjadi kelabu, perlahan menelan matahari masuk ke dalamnya. Benar kata mereka yang mengatakan bahwa, sunset di Selong Belanak adalah salah satu dari sunset yang tercantik di Lombok. Dan kami tidak menyesali untuk menunggunya, meskipun harus pulang kembali ke Kuta melalui jalan sempit dan gelap. It was totally worth it!

 

Written by Melisa Oktavia

WordPress spam blocked by CleanTalk.