Festival Payung Indonesia 2022
Local Experiences

Festival Payung Indonesia 2022, Menjaga Kelestarian Kreasi Payung Tradisi Nusantara

Gelaran ini berupaya melestarikan kekayaan budaya nusantara. Penasaran nggak sih sama Festival Payung Indonesia 2022.

Festival Payung Indonesia 2022 di Solo baru saja dihelat dengan spektakuler! Mengusung filosofi payung sebagai peneduh, gelaran ini berupaya melestarikan kekayaan budaya nusantara. Pengunjungnya yang ramai ternyata 80% didominasi oleh  muda – mudi. Ini menjadi keuntungan tersendiri, karena acara yang digelar selama 3 hari tersebut mampu menarik minat generasi penerus. Pada tujuannya, semoga mereka mau meneruskan pesona kreasi payung tradisi nusantara.

Festival Payung Indonesia 2022 di Solo

Walikota Solo Gibran Rakabuming dan keluarga dalam Festival Payung Indonesia 2022 di Pura Mangkunegaran

Acara tahunan ini diselenggarakan dengan tema The Kingdom and Umbrella. Pas sekali dengan tempat pelaksanaan yaitu di pura Mangkunegaran Solo yang terkenal indah nan eksotik. Selama tanggal 2 – 5 September 2022 pengunjung dibuai dengan aneka keindahan payung dalam berbagai kreasi.

Baca juga: Potensi Wellness Tourism di Indonesia, kota Solo contohnya

Fespin IX 2022 menghadirkan berbagai agenda. Seperti pameran, workshop kreasi, parade, bazar, pentas seni tari payung, dan lainnya. Sebanyak 81 grup seni dan komunitas kreatif dari 50 kota/ kabupaten di Indonesia mengikuti acara yang telah masuk dalam Kharisma Event Nusantara ini. Selain itu ada juga peserta dari Thailand, India, dan Spanyol yang turut menampilkan tradisi payungnya.

Sejarah baru tercipta, Fespin IX menerbitkan buku kumpulan esai bertajuk ‘Payung Tradisi Nusantara’. Peter Carey, sejarawan Indonesia modern, menyampaikan bahwa buku ini merupakan produk literasi  bersejarah lintas generasi yang bertanggung jawab. Selain membawa perspektif baru, buku ini  sangat bermanfaat bagi budayawan dari generasi muda. Khususnya sebagai sumber catatan panjang payung tradisi nusantara.

Kreasi Payung Tradisi Nusantara

Salah satu wilayah pengrajin Kreasi Payung Tradisi Nusantara

Payung memang menjadi sebuah tradisi istimewa. Pada budaya di beberapa daerah, fungsi dan kedudukan payung sangat tinggi. Bahkan bisa menjadi simbol strata sosial. Sedangkan payung tradisi yang ada sejak dulu kala, menjadi sebuah elemen yang berharga dan patut dilestarikan. Karena mampu menyatukan beragam unsur budaya daerah.

Baca juga: Festival Kemerdekaan Jepara Bangkit 2022

Berikut adalah 3 kerajinan kreasi payung tradisi nusantara yang sampai saat ini masih diminati. Dalam Fespin IX mereka masih mampu menggelorakan keistimewaan, yaitu:

  1. Payung Mutho Mbah Rasimun – Malang
Payung Mutho Mbah Rasimun – Malang

Salah satu ikon budaya Malang adalah payung mutho. Payung mutho terbuat dari kertas dan bambu kemudian dilukis sehingga menjadi cantik. Sayangnya, keberadaan produk kebudayaan ini menjadi sangat langka sekarang. Pengrajin payung mutho yang masih bertahan adalah Mbah Rasimun. Beliau mulai menggeluti pembuatan payung kertas ini sejak tahun 1945.

Mbah Rasimun menjelaskan pembuatan payung ini memiliki sampai 60-an tahap hingga menjadi 1 payung siap pakai. Hebatnya, semua dilakukan dengan tangan. Sehingga desain payung 1 dengan lainnya tidak ada yang sama. Untuk itulah, payung kuno ini sekarang juga berfungsi sebagai elemen dekorasi.  

Sebagai upaya menjaga keberadaan payung mutho, pemerintah setempat terus berusaha untuk melakukan regenerasi sehingga akan ada banyak pengganti pengrajin seperti mbah Rasimun. Selain itu, dibuatlah juga jenis tarian yang menceritakan tentang payung kuno ini. Untuk kemudian dikenalkan di sekolah – sekolah. Dan tentunya, mengikutkan payung mutho dalam festival  payung Indonesia 2022 juga strategi tepat untuk keberlangsungan produk budaya Jawa ini. 

  1. Payung Lukis Ngudi Rahayu Juwiring – Klaten
Payung Lukis Ngudi Rahayu Juwiring – Klaten

Payung khas Juwiring juga menarik hati. Kelompok produksi Ngudi Rahayu ini bahkan sudah berhasil memasarkan payung lukis hingga ke kancah internasional. Kini di desa Tanjung kecamatan Juwiring, banyak masyarakat yang dengan bangga meneruskan pembuatan dan melestarikan warisan nenek moyang ini.

Sempat terpuruk akibat dihempas oleh produksi payung plastik, payung Ngudi Rahayu tetap bertahan hingga sekarang. Meskipun dengan proses panjang untuk menjadikan sebuah payung. Bahkan bahan baku utama untuk kerangka didatangkan dari lereng gunung Merapi. Yaitu kayu dari pohon kembang nongo. Kayu jenis ini dipilih karena pohonnya cepat besar. Selain itu tekstur kayunya  lebih lunak sehingga mudah diproses.

Dalam pembuatannya, terdapat proses membuat kerangka. Kemudian kerangka disulam satu persatu. Yaitu proses memasang  tali-tali yang berada di pangkal payung.  Selanjutnya adalah proses mayu atau menempelkan kain dan mlipit atau  melipat sisa kain di bagian luar supaya rapi. Jenis kain yang digunakan sesuai dengan jenis payung yang akan dibuat. Semisal payung kematian yang menggunakan kain katun seperti  kafan. Beda lagi kain untuk payung tari, payung dekorasi, atau payung lainnya. 

Memang banyak jenis payung yang diproduksi di Ngudi Rahayu Tanjung Juwiring ini. Mulai dari payung agung untuk kerajaan, payung panas hujan, payung dekorasi, payung tari, payung ritual, dan masih banyak lagi.

Balik ke proses pembuatan, selesai mlipit, payung setengah jadi kemudian dijemur. Setelah kering barulah proses melukis menggunakan cat dilakukan. Total keseluruhan ada 11 tahap untuk pengerjaan sebuah payung. Semua dilaksanakan sepenuh hati oleh masyarakat berbakat dari desa Tanjung kecamatan Juwiring Klaten.  

  1. Payung Geulis
Payung Geulis Tasikmalaya

Geulis berarti cantik. Sehingga payung geulis adalah sebuah kesenian cantik dari Tasikmalaya. Dulunya para noni Belanda menyukai desain jelitanya. Sehingga payung ini sempat mengalami kejayaan pada kurun waktu 1960 – 1970.

Kemudian, pamornya sempat menyurut karena desakan payung impor. Namun lambat laun hingga kini payung geulis kembali mengeluarkan pesonanya. Pangsa pasarnya tak tanggung – tanggung. Sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Jepang, Belanda, Italia, Rusia, dan Jerman.

Baca juga: Destinasi Wisata Tersembunyi di Tasikmalaya

Payung geulis terbuat dari rangka bambu. Rangka ini diberi hiasan benang warna – warni agar lebih indah. Kemudian rangka tersebut diberi lapisan kain atau kertas dan ujung – ujungnya dirapikan dengan larutan tepung kanji atau tapioka. Lalu dijemur hingga keras setelah itu dilukis. 

Payung geulis memiliki 2 motif lukisan. Yaitu motif hias geometris yang menonjolkan garis lurus, lengkung dan patah-patah dan motif hias non geometris yang bergambar alam seperti manusia, hewan dan tanaman. Semua tahapan membuat payung geulis mengandalkan ketrampilan tangan dengan sepenuh hati dan ketelitian. Hanya gagang payung yang dibuat dengan mesin.

Sayangnya, eksistensi payung geulis juga terancam. Oleh generasi masa kini, murahnya harga jual dianggap tidak sepadan dengan tingginya kerja keras dan lamanya proses pembuatan. Sehingga pemerintah setempat mencoba mengadakan beberapa inovasi, salah satunya adalah workshop yang mengedepankan potensi payung geulis sebagai kekayaan budaya bangsa.

Sateja Payung Geulis adalah salah satu penggiat pelestarian produk unggulan Tasikmalaya ini. Beberapa bulan yang lalu pemerintah kota menggandeng Sateja untuk mengadakan workshop pembuatan payung geulis bagi masyarakat umum non pengrajin. Harapannya akan terjadi regenerasi pembuat payung ini.

Kreasi Payung Kekinian 

Kreasi Payung Kekinian

Mengingat keberadaannya yang terus terancam punah, keindahan payung tradisi ini layak dieksplorasi. Ujar Heru Mataya, dari Mataya Arts & Heritage selaku penyelenggara, Fespin IX melakukan upaya pelestarian payung tradisi nusantara sekaligus mengkreasikan dengan media baru. 

Sebagai tambahan, media baru ini diharapkan juga bisa mengikuti selera zaman yang terus berkembang. Sehingga payung tradisi akan terus diminati. Dalam Fespin IX pengunjung akan dibuat terpesona dengan karya – karya kontemporer para peserta. 

Seperti misalnya ada pengrajin boneka yang mengaplikasikan pada payung hias. Atau seorang pengrajin payung muda yang menggunakan huruf Jawa sebagai hiasan payungnya. Selain itu, ada banyak komunitas seni kreasi yang turut mengkreasikan payung dengan ciri khas masing – masing. 

Di antaranya payung dengan kombinasi kreasi kain perca, payung kain yang dihias dengan sulam pita, benang, dan sashiko. Ada juga beragam rupa payung rajut yang manis. Serta payung kertas yang dilukis oleh anak-anak difabel. Masih banyak lainnya yang dipamerkan di pura Mangkunegaran selama gelaran Festival Payung Indonesia ke-9 2022.

Harapannya, dengan penggabungan kreativitas kekinian, kreasi payung Nusantara tetap lestari. Karena ini merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki Indonesia. Yang harusnya bisa dinikmati hingga kelak oleh beberapa generasi mendatang.

0 comments on “Festival Payung Indonesia 2022, Menjaga Kelestarian Kreasi Payung Tradisi Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.