'Think Globally, Act Locally' ala R.A. Kartini, Bawa Ukiran Jepara Jadi Mendunia
Lifestyle Local Experiences

‘Think Globally, Act Locally’ ala R.A. Kartini, Bawa Ukiran Jepara Jadi Mendunia

Kartini adalah sosok pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita. Namun ternyata Kartini juga berusaha sekuat tenaga mengembangkan hasil ukiran di Jepara. Sampai-sampai hasil kerajinan ini jadi komoditas ekspor. Kartini berhasil memberi contoh, bahwa kita harus mampu 'Think Globally Act Locally'

Jepara adalah kota kelahiran pahlawan nasional R.A. Kartini. Berkat perjuangan beliau membela kaum hawa, kota di Jawa tengah ini menjadi terkenal. Bahkan tempat wisatanya menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi turis. Tak hanya itu, karena pemikirannya yang luas, Kartini juga berhasil mengangkat perekonomian Jepara melalui ukiran.

Sosok R.A Kartini sangat penting bagi penduduk Indonesia. Terutama para wanita. Pahlawan nasional yang lahir pada 21 April tahun 1879 ini adalah pejuang kesetaraan wanita Indonesia. Dimana pada jaman dahulu, para kaum hawa pribumi dipandang sebelah mata.  Beliau dengan kecerdasannya mampu berjuang hingga saat ini dapat dilihat bagaimana wanita Indonesia mampu berkiprah sejajar dengan pria.

Atas keelokan perilaku dalam perjuangan hingga akhirnya keberhasilan dalam menggapai cita-cita mulia, banyak yang memberi penghargaan tinggi pada Kartini. Seperti pemerintah Indonesia yang menobatkan beliau menjadi pahlawan nasional pada tahun 1964. Kemudian di luar negeri sana, tepatnya Belanda, ada beberapa jalan yang diberi nama Kartini. Seperti setiap tanggal kelahiran dari sosok yang terkenal dengan surat-surat puitisnya ini, pada 21 April warga Indonesia memperingati hari Kartini.

Kartini memang orang Indonesia, kelahiran Jepara, Jawa tengah tepatnya. Namun beliau bisa terkenal hingga ke ranah internasional. Kemampuan berbahasa asing seperti Belanda, mampu menunjukkan pemikirannya melalui surat-surat yang dikirimkan kepada teman-teman beliau di luar negeri. 

Tak hanya di dalam negeri. Di Belanda, pemerintah mengabadikan kiprah Kartini dalam penamaan nama-nama jalan. Yakni di Utrecht ada jalan utama berbentuk ‘U’ yang bernama Kartinistraat. Pun dengan di Venlo Belanda Selatan, ada Jalan Kartini/Kartinistraat berbentuk ‘O’. Sedangkan di Amsterdam nama Kartini ditulis lengkap dalam nama jalan, yaitu Jalan Raden Adjeng Kartini. 

Kartini juga berhasil membuat kota kelahirannya dikenal dunia internasional. Hal ini berdampak pada kota Jepara yang makin terkenal. Di sisi pariwisata, semakin ke sini, Jepara semakin banyak memiliki destinasi wisata Indonesia yang mendunia. 

Baca juga: Yuk, Berburu Sunset ke Beberapa Tempat di Yogyakarta

Sebutlah museum Kartini, Pantai Kartini dan beberapa pantai indah lainnya, Taman Nasional Karimun Jawa, air terjun Songgo Langit, dan lainnya. Kesemuanya menarik dan mampu menjadi magnet wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Snorkeling di Jepara juga Menantang

Dari hal di atas, bisa dengan bijak dipahami. Bahwa tepatlah kiranya ungkapan Think Globally Act Locally. Sebagaimana Kartini contohkan sejak dulu. Mampu berwawasan lebih luas, namun tetap mendaya gunakan kearifan lokal. 

Mengembangkan perspektif global berarti berupaya lebih memahami, menerima, dan memberikan wawasan yang lebih luas. Setiap negara memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Bertindak secara lokal berarti melakukan perubahan sesuai dengan prioritas masing-masing daerah, memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki tiap daerah. Belajar boleh sejauh negeri China, namun nanti hasilnya bisa digunakan untuk memajukan bangsa sendiri.

Balik lagi ke Jepara. Selain terkenal dengan tempat wisata yang banyak dikunjungi turis, hasil ukiran penduduk setempat bahkan terkenal ke seantero dunia. Sampai-sampai julukan kota ukir disematkan ke daerah di pinggir pantai utara Pulau Jawa ini. Sekarang, Jepara merupakan pusat seni kerajinan ukir.

Dalam mengembangkan ukiran di Jepara, Kartini juga terlibat. Beliau sempat menghidupkan kembali aktivitas produksi ukiran yang dilakukan oleh para pengrajin di belakang gunung.

Kartini meminta mereka membuat berbagai ukiran seperti pigura, meja kecil, tempat perhiasan, dan aneka bentuk cinderamata lainnya. Kemudian hasil ukiran dijual ke Semarang dan Batavia (Jakarta). Lalu uang hasil penjualan oleh Kartini diberikan semua kepada para pengrajin, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kartini pun selalu memberikan cinderamata  kepada para teman-teman dari luar negeri. 

Lambat laun, hasil ukiran pengrajin Jepara makin tersebar dan terkenal dimana-mana terutama di luar negeri.  Ukiran Jepara terdiri dari  berbagai jenis produk. Seperti pintu, lemari, patung, relief, dan atap.

Baca juga: Paket Wisata ke Solo dari Pigijo

Ciri khas ukiran Jepara adalah dengan adanya motif daun trubusan. Motif trubusan yang menjadi pembeda ukiran Jepara dengan asal daerah lain ini kemudian dibagi menjadi dua. Pertama, daun yang keluar dari tangkai relung. Kedua, daun yang keluar dari cabang atau ruasnya.

Motif khas ukiran Jepara lainnya dinamakan Jumbai. Yaitu daun yang berbentuk seperti kipas,  terbuka lalu meruncing di ujungnya. Kemudian ada tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun. Motif khas selanjutnya adalah tangkai relung yang memutar dengan gaya memanjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil untuk mengisi ruang dan memperindahnya.

Di masa sekarang, ukiran Jepara menjadi komoditas ekspor yang menunjang perekonomian kota. Seiring perkembangan jaman, para pengrajin menyesuaikan minat pasar dengan membuat ukiran jenis minimalis. Di sisi lain, permintaan pasar pada jenis ukiran yang lebih klasik juga diupayakan. Sebab poin klasiknya ini yang menjadi nilai lebih. 

Adalah jenis ukiran Macan Kurung Belakang Gunung yang menjadi cikal bakal berkembangnya ukiran di Jepara. Karya seni ini berbentuk seekor macan yang dirantai dalam kurungan. Di dalam kurungan juga terdapat bola. Di bagian atas kurungan biasanya juga diberi tiruan bentuk binatang seperti naga Jawa, ular, burung, dan lainnya. Karya seni bernilai tinggi ini dibuat pada gelondongan kayu yang utuh tanpa dibelah sehingga bisa nampak tanpa sambungan. Karena keunikan-keunikan inilah macan kurung pernah menjadi idola pada masa sebelum berkembangnya industri mebel ukir Jepara. 

Dalam memproduksi ukiran, pemerintah Jepara menyebarkan ke hampir seluruh kecamatan. Lalu menentukan keahlian masing-masing. Kemudian sentra perdagangannya dipusatkan di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda.

Tak pelak, industri mebel ukir Jepara tersebar luas di hampir semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimunjawa. Dilansir dari Wikipedia, berikut adalah jenis ukiran beserta daerah pengembangannya:

•Sentra Kerajinan Ukir Patung Macan Kurung, di Mulyoharjo

•Sentra Kerajinan Ukir Seni Relief, di Senenan

•Sentra Kerajinan Ukir Meubel Minimalis, di Petekeyan

•Sentra Kerajinan Ukir Gebyok, di Blimbingrejo

•Sentra Kerajinan Ukir Bambu, di Suwawal Timur

•Sentra Kerajinan Ukir Lemari, di Bulungan

Kartini erat kaitannya dengan ukiran Jepara. Karena selain menegakkan emansipasi wanita, Kartini juga menyelamatkan hidup para pengrajin ukir Jepara. Melalui pemikiran-pemikirannya yang mendunia. Kemudian beliau terapkan kepada tanah air tempat kelahirannya. Think Globally, Act Locally. Sebuah pleidoi yang patut kita teladani di era globalisasi ini. Apa rencanamu untuk itu?

Baca juga: Ini dia Wisata Bantul Yogyakarta yang Hits dan Instagrammable

Berkelana dengan kata-kata || Menebar guna lewat hamparan frasa

0 comments on “‘Think Globally, Act Locally’ ala R.A. Kartini, Bawa Ukiran Jepara Jadi Mendunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.